Share

Part 3

Selama dua jam Arthur diperiksa dan dilakukan pengecekan darah, ternyata Arthur didiagnosa terkena demam berdarah dan harus dirawat di rumah sakit. Aku dan Mas Didik terduduk lesu. Pasalnya, kami bingung dengan biaya rumah sakit yang pasti tak sedikit.

“Biarlah nanti Mas usahakan pinjam lagi sama teman Mas untuk biaya berobat Arthur, Dia harus sembuh, Mas pulang dulu bawa baju ganti kamu sama Arthur.” Ujar suamiku sembari memegang pundakku. Aku mengangguk pelan. Malam ini aku harus menginap menjaga Arthur.

Aku menghubungi saudaraku, Farida dan Emi dengan berkirim pesan melalui W******p. Mereka berjanji akan menjenguk keponakannya pada esok harinya. Pikiranku tak tenang memikirkan biaya Arthur. Uang yang dibawa Mas Didik tadi hanya tiga ratus ribu dan tersisa seratus ribu sisa dari biaya pemeriksaan darah Arthur.

Aku tak yakin Mas Didik akan mendapatkan pinjaman, namun ingin meminjam dengan adik-adikku juga rasanya tak mungkin sebab kedua adikku bekerja serabutan.

Farida ikut menjaga warung gorengan milik tetangga, sedangkan Emi menjadi pengasuh anak dengan gaji kurang dari satu juta sebulannya. Melihat wajah anakku yang sudah harus merasakan jarum suntik di pergelangan tangannya, sakit sekali rasanya.

Tak lama Mas Didik datang membawakan baju ganti kami dan beberapa makanan ringan. Aku heran dari mana dia memiliki uang untuk membelikan makanan kami. Sedangkan uang untuk berobat terbilang sangat pas-pasan.

“Bapak tadi kasih uang dari hasil menjual bibit.” Katanya saat kutanyakan darimana uang membeli makanan ringan. Dia menyerahkan uang sepuluh lembar seratus ribu.

‘Alhamdulillah’. Batinku. Minimal kami punya pegangan untuk membayar biaya rumah sakit nantinya, meski kami juga belum tahu berapa lama Arthur akan dirawat.

***

Sudah empat hari Arthur dirawat namun tak ada satu pun orang di rumah mertuaku yang menjenguk. Bila urusan Bapak, aku sangat paham dan maklum, karena bapak fokus mencari uang buat perawatan Arthur melalui penjualan bibit-bibit tanamannya. Selama Arthur di rumah sakit, dia rutin menitipkan makanan.

Sedangkan Ibu tak sekalipun menampakkan batang hidungnya untuk sekedar melihat cucunya yang sakit, Sementara adik-adikku setiap hari datang dengan membawa apel, jeruk juga roti-roti yang sering kumakan untuk mengganjal perutku. Aku bersyukur memiliki saudara yang sangat perhatian.

Mas Didik datang dengan dua orang temannya. Temannya membawakan buah-buahan yang cukup banyak dan memberikan amplop berisi uang yang sangat ku syukuri.

“Semoga Arthur cepat sembuh ya.” Kata mereka sebelum pergi. Arthur sudah mulai bermain-main. Keadaannya benar-benar membaik. Aku berharap dalam beberapa hari ini anakku sudah diperbolehkan pulang.

“Hari ini Arthur sudah boleh pulang.” Ujar Dokter Rahma yang memeriksanya pagi ini.

Kami pun diminta untuk menyelesaikan administrasi. Dengan uang bapak dan uang teman-teman suamiku, akhirnya bisa menyelesaikan urusan administrasi dan kami bersiap pulang.

“Ini masih ada sekitar tujuh ratus ribu, kamu pegang baik-baik ya Dek.” Mas Didik menyerahkan uang dalam amplop.

Pulang dari rumah sakit, aku membawa satu tas plastik besar buah-buahan dan roti juga uang tujuh ratus ribu di tangan. Bersyukur, Arthur sakit membawa berkah.

Kami pulang, rumah dalam keadaan sepi. Kata Mas Didik, Ibu bersama Farah, Sekar sedang ke luar sejak pagi tadi. Begitu masuk kamar, aku langsung merebahkan Arthur yang sedang tertidur di kasur dan aku memilih ikut beristirahat, sebab selama empat hari badan rasanya sangat capek dan mataku sangat mengantuk karena tidur tak nyenyak menjaga Arthur yang masih rewel saat itu.

Belum ada sepuluh menit aku memejamkan mata, kudengar suara Ibu dan Farah di ruang tamu. Mereka seperti sedang membongkar belanjaan. Aku berusaha cuek dan tetap memejamkan mata.

“Istrimu sudah pulang?” Suara Ibu bertanya pada Mas Didik.

“Ya Bu, dia masih tidur istirahat karena ....” Belum selesai Mas Didik berbicara, Ibu sudah menyela.

“Istrimu masih tidur jam segini? Bangunin dia, buatkan ibu sama Farah teh hangat.” Titahnya masih fokus membongkar plastik belanjaan mereka.

“Biar aku saja, Bu. Mayang masih capek habis jagain Arthur di rumah sakit.” Jawab suamiku lalu melangkah menuju dapur.

“Kamu itu memang senang diperbudak istrimu, capek apanya di rumah sakit, itu hanya alasan saja untuk orang pemalas seperti dia.” Teriakannya terdengar di telingaku, Mas Didik juga, hanya ia cuek saja.

Selama empat hari di rumah sakit, aku merasakan ketenangan yang luar biasa meski harus menjaga Arthur yang sedang sakit, tenang karena tidak perlu mendengarkan suara ibu yang tidak perlu.

Kata-kata yang ke luar dari mulutnya hanya membuat batin ini semakin terluka. Aku bersyukur tak membangunkanku dan Mas Didik tak mengindahkan ucapan ibunya, ia memilih langsung ke dapur membuatkan dua cangkir teh pesanan ibu.

“Bagus tidak Sekar mainan barbie yang ini, pokoknya kalau mbahmu nanti dapat uang penjualan bibit, kita beli yang lebih banyak lagi ya, nduk.” Janji Ibu ke pada cucu kesayangannya. Aku merasakan perih mendengar ucapan ibu yang samar-samar kudengar dari dalam kamar.

***

Sore, setelah mandi dan berganti baju. Aku mengambil pisau dari dapur untuk mengupas apel yang kubawa dari rumah sakit. Aku duduk di teras sambil menggendong Arthur.

“Bukan main nyonya besar, baru bangun langsung makan buah ya?” Suara ibu mulai mengangguku. Aku menoleh sekilas dan melanjutkan aktivitasku mengupas apel.

“Itulah sifat jelek dipelihara, menantu nggak tau diri. Makan sendiri sementara mertua nggak dikasih, Ajaran orangtua pelit ya anak juga ikut pelit.” Mataku melotot sempurna. Bila ibu sudah menyinggung orangtuaku, sudah pasti aku akan marah.

“Aku tidak pernah pelit, Bu. Apapun makanan selalu dibagi sama semua orang di rumah ini. Berbeda sama ibu yang suka menyembunyikan makanan karena takut aku sama Mas Didik memintanya, jadi siapa yang pelit aku atau ibu?”

Dia kaget mendengar jawabanku. Baru saja dia ingin menjawab, Bu Trisno teman pengajiannya datang.

“Ehh Ibu Trisno apa kabarnya, ayo silahkan masuk.”

“Ini istrinya Didik ya, Bu. Cantiknya.” Sapanya. Aku hanya tersenyum sembari menganggukkan kepalaku tanda hormat.

“Ya, Bu. Ini istrinya Didik. mantuku semuanya ayu-ayu.” Ibu mengambil tanganku dan mengelusnya. Aku tentu saja kaget dengan sikap ibu yang tiba-tiba baik ke padaku.

“Semua mantu kesayangan, pokoknya semua kuanggap anak, Oya Ibu Trisno ada perlu apa kemari.” Katanya lagi langsung mengambil Arthur dari gendonganku. ‘Ada angin apa ini tiba-tiba menggendong Arthur’

O, sepertinya selain memperlakukan tak adil buatku dan anakku, ternyata Ibu juga suka bersandiwara menjadi baik jika di depan orang, sementara biasanya dia tak pernah begitu padaku, hanya pada Farah saja perlakuannya selalu baik dan sempurna.

“Lusa, saya rencananya mau pesan kue bebongko sama ibu untuk pengajian bapaknya, kurang lebih 200 bungkus. Jadi nanti sebagian makan di tempat dan sebagian lagi dibawa pulang. Kalau Ibu nggak repot bantu saya buatkan ya, Bu. Nanti saya ambil dua jam sebelum pengajian, bisa kan, Bu?”

“Pasti ... pasti bisa… jangankan 200 bungkus.. 500 bungkus pun bisa saya kerjakan sendiri, Bu.” Perutku terasa mual mendengar celotehan ibu. Benar-benar hobi berbohong.

“Oya lah, Bu makasih sudah mau saya repoti, ini uang mukanya. Nanti sisanya Saya bayar setelah kuenya diambil. Jangan lupa lusa sebelum jam empat Saya ambil pesanannya.” Bu Trisno langsung pergi.

“Kamu dengar tadi kan apa kata Ibu Trisno, jadi mulai besok kamu persiapkan bahannya apa saja untuk membuat kue bebongko itu, ingat 200 bungkus,” Tukas ibu langsung menyerahkan Arthur kembali kepadaku.

“Bukannya ibu yang katanya bisa mengerjakannya sendiri, kue bebongko itu apa, aku juga nggak bisa buatnya.”

Aku langsung meninggalkannya sendiri di teras dan kembali ke kamar. Kali ini aku tak ingin membuat kue pesanan Ibu Trisno. Sekali-kali harus diberi pelajaran.

Dia selalu saja drama di depan semua orang mengatakan dia mertua yang terbaik, berbanding terbalik dengan aslinya.

Related chapters

Latest chapter

DMCA.com Protection Status