Share

Lima

Seorang gadis cantik berjalan mengendap-endap menuju pintu keluar rumah. Yang ada di pikiran nya adalah jangan sampai dia membangunkan mamah dan kakak nya.

Alin bernafas lega saat berhasil keluar. Lalu dia berjalan membuka gerbang rumah itu.

Kemarin saat dia bolos sekolah dan pulang kerumahnya. Alin menemukan mamah dan kakak nya pulang dengan keadaan mabuk-mabukan.

Ia kira rumah nya masih sepi. Karena semenjak papahnya pergi karena ada urusan bisnis di luar kota. Mamah dan kakak perempuan nya tidak pulang kerumah selama tiga hari ini. 

Luka-luka di tubuhnya pun disebabkan oleh mereka. Selalu saja meluapkan emosi pada dirinya. 

Suara klakson mengagetkan Alin dari lamunannya.

Alvin membuka pintu mobilnya lalu turun," pagi-pagi jangan ngelamun. Coba senyum."

Alim tersenyum singkat.

"Aku jadi tau wajah bidadari saat senyum seperti apa." Ucap Alvin.

"Apaan sih?" Balas Alin salah tingkah.

Cowok itu tertawa," pipinya kenapa warna pink. Jadi gemes pengen gigit."

"Kenapa gombal terus sih? Jadi gemes pengen bunuh." Ucap Alin menirukan gaya bicara Alvin.

Cup!

Cowok itu mengecup singkat bibir Alin.

"Mulutnya minta di rukiyah. Lagian kalo aku dibunuh, kamu nanti jadi janda muda." Celetuk Alvin sembarangan.

"Siapa yang udah nikah sama situ? Saya masih singel."

"Yaudah ayo nikah sekarang." 

"Mau sekolah dulu."

"Yaudah nanti pulang sekolah nikahnya." 

"Banyak bacot!" Ucap Alin garang lalu bejalan mengitari mobil itu membuka pintu mobil.

"Mulutnya minta di didik!" Seru Alvin tak suka.

"Mau aku bantu buka pintunya?" 

"Saya gak cacat," balas Alin dingin.

Alvin menghela nafasnya kasar. Rencananya dia ingin romantis-romantis san seperti di  film-film gagal sudah.

__________________

"Ngapain lo?" Tanya Arya.

"Lagi menanam bunga." Jawab Kenzo sibuk menggali tanah untuk menanam tanaman bunga yang dibawanya.

"Susah banget anjir gali tanahnya!" Protes Kenzo.

"Lagian lo nanam bunga di area tanah liat. Bego banget sih." Sahut Ardan.

"Emang kenapa?" Tanya Kenzo.

"Ya gabakal tumbuh lah. Gak ada gizi."

Arya berdehem," jadi bingung gue. Sebenarnya apa yang dilihat tanah liat?"celetuk Arya menampilkan wajah bingungnya.

"Bro, mentang-mentang bego gratis jangan lu borong semua." Seru Kenzo.

"Lo juga ken. Mending sekarang masuk kelas, baca buku jadilah anak yang rajin." Nasihat Ardan.

"Iya Ken. Kayak gue rajin." Sahut Arya.

"Lo rajin apa? Kerjaan nya rebahan doang lo kata rajin?" Tanya Kenzo.

"Gue rajin malas-malasan." Balas Arya.

"Gue tanya, sebenarnya kalo rajin malas-malasan itu kita rajin atau malas?" Tanya Kenzo.

"Rajin dan malas," jawab Arya menjentikkan jarinya.

Ardan menghela nafasnya," kalian ini manusia atau bintang kecil? Goblok mu kok jauh tinggi menghiasi angkasa."

Setelah mengucapkan itu Ardan langsung pergi meninggalkan mereka berdua.

"Cabut Ken?" Tanya Arya.

"Bantu gue nanam bunga dulu." Pinta Kenzo.

Arya mengangguk, lalu berjongkok disamping Kenzo," bunganya mana?" 

Kenzo menunjukan dengan ekor matanya.

"Wah ternyata goblok nya melawan hukum alam," ucap Arya melihat bunga yang di tunjukan Kenzo hanya bunga mawar tidak dengan tangkainya.

Ingat! Hanya bunganya saja.

Mana bisa tumbuh?

"Daripada bego gue melewati batas maksimum. Gue pamit ke kelas duluan Ken. Mending bunga mawarnya lo pakai buat mandi kembang tujuh rupa."

"Siapa tau gobloknya luntur," setelah mengucapkan itu Arya pergi meninggalkan Kenzo yang kebingungan.

"Tujuan gue kan bagus mau mengembangbiakan tanaman." Gumam Kenzo.

_________________

Alin membuka pintu mobil Alvin. Lalu turun dari mobil itu.

"Makasih. Duluan," ucap Alin lalu melangkahkan kakinya menuju kelas.

Alvin segera menyusul langkah gadis itu.

"Biarkan saya mengantarkan anda sampai tempat tujuan dengan selamat." Ucap Alvin.

Alin tersenyum singkat.

"Biar aman," Alvin menggenggam tangan Alin.

"Nanti istirahat aku jemput ke kelas kamu."

"Intinya jangan dekat-dekat sama yang namanya laki-laki."

"Pagi pak," sapa Alin tersenyum ramah pada pak Gian, guru kimianya.

"Pagi Alin," balas pak Gian tersenyum.

"Termasuk guru." Lanjut Alvin.

"Maksudnya?" Tanya Alin.

"Jangan senyum kayak tadi sama guru laki-laki. Inget ya senyum kamu hanya aku yang boleh dapet, yang lain enggak!" 

"Dia guru kita loh."

"Emangnya kenapa? Gak ada penolakan!" Tegas Alvin.

"Cuma senyum doang Al!"

"Ya gak boleh!"

"Hm." Dehem Alin malas.

"Good girl!" Seru cowok itu mengacungkan kedua jempolnya.

"Sana masuk."  Ucap Alvin saat merek sudah sampai di depan ruang kelas Alin.

"Inget ya, belajar yang bener biar bisa di jadiin contoh nanti buat anak-anak kita."

"Apaan sih?" Ucap Alin tak suka.

"Inget ya nanti istirahat jangan kemana-mana kalo belum aku jemput."

"Iya-iya bawel!" Ucap Alin memasuki ruang kelasnya.

"I LOVE YOU SEKABUPATEN ALIN!" teriak Alvin tidak tau malu.

Para siswa-siswi yang berlalu lalang yang memusatkan pandangan mereka padanya ia hiraukan.

Beginilah cowok dingin dan cuek jika sudah bucin.

________________

Hari ini kelas Alin pelajaran olahraga. Mereka mengganti pakaian olahraga nya lalu pergi ke lapangan olahraga.

Terik matahari siang ini membuat mereka haus setelah melakukan aktivitas.

Alin izin ke kantin membeli minum. Kebetulan dia absen pertama dan tadi pertaman maju untuk praktik loncat jauh.

"Alin!" 

Gadis itu membalikan badannya kebelakang saat namanya dipanggil oleh seseorang.

"Sudah aku bilang kalo belum aku jemput ke kelas jangan kemana-mana." 

"Apa sekarang udah waktunya istirahat?" Tanya Alin kepada Alvin yang menampilkan wajah cemberut.

"Udah dari dua menit tiga puluh satu detik yang lalu." Jawab Alvin.

"Maaf, aku habis olahraga. Jadi gak sempat ke kelas."

"Oke gak apa-apa. Pasti kamu cape kan? Sekarang ayo aku beliin makanan." Alvin menarik tangan Alin menuju kantin.

________________

"Pada bolos ya kak?" Tanya Alin saat di kantin dia menemukan Ardan, Arya, dan kenzo sedang memakan mie ayam.

"Rutinitas Lin," jawab Arya.

Alin menatap Alvin tajam.

"Kebawa hasutan setan ayang," cengir Alvin.

Kenzo berlagak mau muntah," geli gue anjir. Ayang? Haduh seorang Alvin jadi bucin nya melewati batas rata-rata."

"Iri?" Ujar Alvin.

"Gak, gue punya pacar seratus satu. Lo cuma satu. Kalah jauh!" Sombong Kenzo.

"Sungkem dulu sama yang suhu," ucap Arya.

"Ganteng doang setia kagak!" Seru Ardan.

"Gue setia salah. Gak setia salah. Emang ya serba salah." Ucap Kenzo mendramatis.

"Emang. Kalo yang serba murah itu pasar obral." Sahut Arya.

"Terserah," ucap Kenzo memakan kembali mie ayamnya yang sempat tertunda.

"Dimakan," suruh Alvin datang membawa satu mangkuk bubur dan satu gelas air putih.

"Seriusan?" Ucap Ardan.

Alvin mengangkat satu alisnya ," apa?"

"Alin serius lo mau makan itu?" Tanya Ardan.

"Gak juga sih kak." Jawab Alin.

"Makan. Lo habis sakit kemarin, makannya harus dijaga dulu." Ucap Alvin duduk di samping Alin.

"Tap-" 

"Makan atau aku suapin pakai mulut," ujar Alvin.

Alin segera memakan lahap bubur itu. Membayangkan nya saja dia ogah.

"Anj-"

Bugh!

Arya memukul punggung Kenzo saat cowok itu mau berkata kasar.

Uhuk!

Uhuk!

Uhuk!

"Makanya omongannya dijaga Ken. Ada anak kecil disini, gak baik!" Ucap Arya sambil memberikan satu gelas minum.

"Sialan lo, gue keselek tulang ayam anj-"

"Jir." Lanjut Kenzo melihat tatapan Arya.

"Halo Alvin," seorang perempuan datang dan langsung duduk di samping Alvin.

"Lagi pada ngapain nih? Ngobrol ya? Asik banget kayaknya." Ucapnya.

Alvin menghela nafasnya," minggir."

"Hah?" Ucap perempuan itu.

"Jangan deket-deket."

"Kenapa?"

"Lo gak liat Alvin udah punya doi?" Ucap Ardan.

"Yang mana?"

"Oh itu ya," lanjut perempuan itu menatap Alin.

"Selera lo rendah ya Al?" 

"Jaga mulut lo Mara!" Geram Alvin.

"Mending sama gue aja yang cantik, kaya, dan pastinya cocok buat jadi pasangan lo." Ucap Mara.

"Cantik karena make-up aja bangga," sahut Arya.

"Emang make-up fungsinya buat apa? Merias tumpeng?"  Sewot Mara.

"Swalo neng," ucap Arya.

"Slow bego! Swalo itu merek sendal." Seru Kenzo.

"Alvian nanti bisa anter gue ke toko buku gak?" Tanya Mara sambil memegang tangan Alvian.

"Gak." Balas cowok itu dingin sambil memainkan anak rambut Alin yang sibuk memakan bubur menghiraukan kedatangan Mara.

"Liat gue dong, apa menariknya dia sih?" Mara menarik baju seragam Alvin.

"Mara lo itu kaya indomie." Ucap Alvin.

Mara tersenyum manis," seleramu ya?"

"Murah!" Balas Alvin dengan nada dingin.

Setelah itu dia bangkit dari duduk nya menarik lengan Alin.

"Nanti aku ganti makanannya. Kita pergi, hawa disini gak enak. Aku mencium bau-bau caper. Enek!" Ucap pedas Alvin.

"Gue like gaya lo bro!" Seru Arya tertawa.

"Mending kamu sama aku aja ya?" Ucap Kenzo pada Mara.

"GAK LE-FEL!" Sombong Mara menggibaskan rambutnya lalu pergi dari kantin.

"Saingan baru," gumamnya tersenyum miring.

"Siapa juga yang mau sama situ. Gue mah kasian aja di tolak di depan umum," ucap Kenzo tak suka.

"Kasian apa kasian?" Ejek Ardan.

"Bangs-"

"Bang sate lima tusuk!" Teriak Kenzo tidak melanjutkan ucapannya setelah melihat tatapan Arya.

"Jangan ngomong kasar. Iya gue inget itu Ar." Ujar Kenzo tersenyum.

Bukan apa-apa. Dia hanya takut Arya memukul nya lagi. Sakit coy.

"Tadi lo bilang goblok ke gue loh Ar. Itu kan kasar." Ucap Kenzo.

"Itu beda. Itu emang kenyataan." Balas Arya.

"Sialan lo." Tak terima Kenzo.

Komen (1)
goodnovel comment avatar
arysya
wkwkwk... kocak
LIHAT SEMUA KOMENTAR

Bab terkait

Bab terbaru

DMCA.com Protection Status