Share

Keinginan Arjuna

Sinar matahari masuk menembus jendela, Evelyn bergerak berusaha membuka mata. Yang dia lihat adalah sebuah ruangan yang didominasi warna putih. Gadis itu terduduk, dan menemukan jas hitam milik arjuna menutupi tubuhnya. Matanya mencari keberadaan cowok itu, tapi tidak dia temukan. Kemana dia? Pikir Evelyn, dia ingat bahwa semalam Arjuna menemaninya hingga tertidur.

Pintu terbuka, seseorang yang Evelyn cari muncul. Membawa kantong plastik berwarna putih lagi, "good morning!" Sapa Arjuna dengan sedikit senyuman. Dan itu tampan sekali menurut Evelyn.

Evelyn menelan saliva, "pa-pagi juga. Kau masih disini?"

"Tentu saja, istriku masih disini." Satu jawaban sukses membuat Evelyn salah tingkah, hobi sekali Arjuna membuatnya tersipu. Apa ini? Baru satu malam aku sudah mulai menyukainya? tanyanya dalam hati, pada diri sendiri.

"Are you okay?" Arjuna melambaikan tangan tepat didepan wajah Evelyn.

Evelyn yang sempat hilang fokus, kembali fokus "y-iya, aku baik-baik saja" jawab Evelyn terbata.

"Sarapan untukmu," Arjuna meletakkan kantong plastik itu didepan meja sofa yang Evelyn duduki "maaf aku harus pergi kekantor, hari ini aku ada meeting dengan klien. Kau tidak apa-apa sendirian?"

"Pergilah, aku tidak butuh ditemani."

"Ada Farah yang nanti akan mengantarmu pulang."

"Siapa dia?"

"Asistenku," Arjuna mengambil jasnya yang berada dipangkuan Evelyn.

"Asistenmu seorang wanita?"

"Bagiku bukan," jawaban Arjuna terdengar ragu.

"Hah?"

"Aku pergi dulu!" Arjuna begegas, saat sudah mencapai pintu dia berbalik kembali dan mencuri ciuman dari bibir Evelyn "morning kiss," bisiknya.

Evelyn terperangah, apa yang baru saja Arjuna lakukan sangat tiba-tiba. Terlebih dia tidak melihat Arjuna berbalik kembali "Arjuna kau.." Evelyn sangat kesal, saat Evelyn ingin memakinya Arjuna sudah hilang dibalik pintu. Evelyn pun menarik nafas kasar dan membuangnya "brengsek!" Makinya.

***

Kedatangan seorang wanita yang berpenampilan pria membuat Mona memicingkan mata, wanita itu berdiri layaknya panglima perang didepan kamar rawat suaminya.

"Selamat pagi. Maaf Nona, kau sedang berjaga?" Sapa Mona.

"Selamat pagi Nyonya. Aku sedang menunggu Nona Evelyn," jawabnya ramah dan tegas.

"Evelyn?"

"Ada apa ini?" Evelyn keluar, saat mendengar ada yang menyebut-nyebut namanya.

"Mami.."

"Ada yang mencarimu Eve," Mona menoleh pada putrinya "apa dia temanmu?"

"Bukan." Jawab Evelyn dan Farah bersamaan.

Evelyn menoleh "Kau mencariku?"

"Ah perkenalkan aku Farah, asisten Tuan Juna."

Evelyn mengangguk, dia ingat Arjuna mengatakan padanya bahwa Farah akan menjemputnya. Evelyn menatap penampilan Farah, jadi ini yang di maksud Arjuna dia bukan seorang wanita, penampilan seorang pria yang berisikan tubuh wanita.

"Juna? Arjuna Dabi Kotaro?" tanya Mona memastikan.

"Betul Nyonya. Aku akan mangantarkan Nona Evelyn pulang, mamastikan bahwa dia aman."

Mona melirik putrinya, "kau sudah bertemu Juna?"

"Arjuna bersamaku tadi malam. Mami aku akan pulang bersama Farah, aku harus kekampus ada kelas siang ini."

Mona mengangguk "El sedang dalam perjalanan."

"El akan pulang?"

"El langsung melakukan penerbangan pertama. Dia khawatir dengan kondisi Papi," kata Mona sedih.

"Dia mungkin akan marah padaku," Evelyn tertunduk sedih.

Mona memeluk putrinya, dan Farah langsung membalikkan badan "berhenti menyalahkan dirimu, kami juga bersalah atas keputusan paling penting dalam kehidupanmu Eve. Kau anak yang baik, selama ini tidak pernah membantah keputusan kami. Kau selalu menerima dan menjalankannya. Tapi ketahuilah pilihan Ayahmu selama ini tidak pernah salah, dia tahu yang terbaik untukmu. Tapi kau benar, ini adalah sebuah hal yang sangat sakral kau berhak menentukan pilihanmu sendiri."

"Mami..hiks.." Evelyn menangis dalam pelukan ibunya. Mona menepuk-nepuk bahu, menenangkan putrinya.

"Aku akan pulang," Evelyn melepaskan pelukan Mona.

"Baik. Berhati-hatilah. Farah, jaga putriku."

"Tentu Nyonya." Jawab Farah, dia membungkukkan sedikit badannya. Kemudian berjalan mengikuti Evelyn.

Saat diperjalanan Evelyn terus menatap Farah lewat kaca mobil, wanita yang luar biasa pikirnya. Farah sangat cantik tapi kenapa harus berpenampilan laki-laki? Evelyn jadi ingin mendekati gadis itu, "berapa lama kau bersama Arjuna?" tanya Evelyn.

"5 tahun saya mengikuti tuan Juna," jawab Farah matanya tetap fokus pada jalanan.

"Sejak di Ausie?"

"Saya bertemu dengan tuan Juna di Ausie Nona."

"Ah, jangan panggil aku Nona. Panggil aku Eve, kita bisa berteman Farah."

"Teman?"

"Ya, teman. Kau tidak ingin berteman denganku?" Evelyn menatap kecewa.

"Bagaimana bisa, kau akan menjadi istri tuan Arjuna. Itu artinya kau akan menjadi bosku juga Nona."

Evelyn tertawa, "kaku sekali wajahmu. Kau tahu aku belum setuju untuk menikah dengan tuanmu. Walaupun nanti aku setuju, tidak ada yang salah pertemanan antara asisten dan bosnya. Itu malah lebih menyenangkan menurutku, maka.. panggil aku Eve."

"Tapi memanggil namamu secara langsung, aku merasa tidak sopan Nona"

"Farah ini perintah!" Seru Evelyn.

"Baik Nona.. em.. E-eve," jawab Farah terbata.

Evelyn kembali tertawa "kau kaku sekali Nona muda. Berapa usiamu?"

"19 tahun," jawab Farah, ujung bibirnya tertarik membentuk sebuah senyuman.

"Sudah kuduga, kau lebih muda dariku."

"Sudah sampai Eve," Farah menepikan mobilnya.

Evelyn sibuk mengoceh, dia jadi tidak menyadari bahwa mereka telah sampai "Mau mampir?" tawar Evelyn.

"Tidak, beri tahu aku kau pergi kekampus jam berapa? Aku akan mengantarmu."

"Juna juga menyuruhmu mengantarku pergi kekampus?"

"Itu tugasku hari ini," jawab Farah.

"Katakan pada tuanmu, aku tidak perlu diantar jemput. Aku bisa sendiri" Evelyn menolak.

"Akan ku katakan."

***

Arjuna duduk dimeja kerja bertuliskan nama Rayhan Gaura dipapan, memijit pelipisnya. Kepalanya sempat berdenyut hebat, perusahaan Fayola Group benar-benar sedang di ambang kehancuran. Dia yang terkenal hebat saja merasa kesulitan mengatasinya. Diluar mungkin dia terlihat santai dan baik-baik saja, tapi sebenarnya kepalanya sudah dipenuhi banyak beban.

TOK! TOK! TOK!

Suara ketukan dipintu membuatnya mengubah raut wajah yang resah, menjadi lebih tenang. Karna Arjuna tidak mau terlihat lemah dan kesulitan saat bertemu orang lain atau karyawannya sendiri.

"Masuk!" Perintahnya.

Masuklah seorang gadis yang berpenampilan seorang pria, "ah kau ternyata" gumam Arjuna.

"Ada pesan untukmu tuan," Farah mendekat.

"Katakanlah."

"Nona Eve tidak mau diantar kekampus. Dia akan pergi sendirian," kata Farah.

"Hanya itu?" Arjuna memastikan.

"Iya, apakah aku harus tetap mengantarnya atau tidak?"

"Tidak usah Farah, biarkan dia. Dan, nanti malam kau bebas, tidak usah mengikutiku. Pergilah bersenang-senang."

"Seriously? Aku boleh pergi kemana pun?"

"Iya, nikamatilah malammu. Entah dengan seorang wanita atau dengan seorang pria."

Farah terkekeh mendengar perkataan tuannya.

***

Setelah menyelesaikan banyak pekerjaan Arjuna kini mulai tenang, perlahan semua masalah diperusahaan teratasi. Untuk itu dia harus selalu berpikir positif agar hasilnya juga positif, kepala yang tadinya terasa akan meledak kini sedikit lebih baik. Ponselnya berdering menampilkan sebuah nama, dia menarik nafas malas tapi tetap menerima panggilan itu.

"Sudah ku katakan jangan menghubungiku!" Jawabnya dengan nada dingin.

"Why? Kau lupa apa yang telah kita lakukan? Aku tidak bisa tidak menghubungimu. Kau berjanji padaku, kau akan kembali" suara wanita diseberang sana terdengar marah dan frustasi.

"Aku disini bukan untuk kepentingan pribadi. Perusahaan sedang membutuhkanku," Arjuna berdesis.

"Jika kau tidak kembali, maka aku yang akan terbang menemuimu."

Bip.

Sambungan telepon terputus, wanita diseberang sana mematikannya. Padahal Arjuna belum sempat menjawab kata-kata terakhir wanita itu. Arjuna kesal, menyisir rambutnya frustasi. Dia menendang kursi dan melemparkan dokumen ke sembarang arah, bersamaan dengan berhamburan kertas dokumen pintu terbuka, dan menampakkan Elangga Gaura yang mematung.

"Kau baik-baik saja?" Suara El membuat Arjuna terkejut, karena dia baru saja memperlihatkan frustasinya kepada orang lain.

"El, kapan kau tiba?"

"Dua jam yang lalu, aku menemui Ayahku dan pergi ke DK Group, tapi kau tidak disana. Aku beberapa kali menghubungimu tapi kau tidak menjawab satu pun," El menggedikkan bahu.

"Kau tahu aku disini?"

"Aku menghubungi Farah. Dia bilang kau berada di Fayola, dan disinilah aku sekarang. Kau terlihat sangat frustasi, kau kesulitan dalam pekerjaan?"

"Tidak! Aku hanya merasa tidak nyaman," Arjuna menundukkan kepala menatap dokumen yang berserakan di lantai.

"Apa karena adikku?" tanya El memastikan.

"Dia gadis yang luar biasa El," Arjuna terkekeh membayangkan saat Evelyn menghindarinya.

"Kau berhasil menemuinya?" El menaikkan alisnya.

"Tentu saja."

"Juna, jangan bermain dengan adikku. Aku tidak peduli dengan perusahaan, jika kau tidak mencintai Evelyn jangan pernah menyentuhnya walaupun hanya seujung kuku," tatapan Elangga menggelap.

"Sejak awal Fayola Group adalah milikmu El, aku sudah tidak menginginkannya. Kini aku mulai menginginkan yang lain. Aku akan tetap menikahinya, dia milikku." Balas Arjuna.

"Berhenti bermain Arjuna!"

"Aku sedang tidak bermain, kau pikir aku sejahat apa? Semua yang kau tahu adalah masa lalu bagiku. Kau tenang saja, adikmu aman bersamaku."

Arjuna menginjak lembaran-lembaran dokumen yang berserakan, mendekatkan jaraknya dengan El "El, aku sedang tidak ingin berdebat denganmu. Aku ingin menemui seseorang yang lebih penting darimu. Sampai bertemu kembali tuan Elangga," mata itu tajam menatap kedalaman mata milik El.

Bersambung..

Bab terkait

Bab terbaru

DMCA.com Protection Status