Share

Ucapan Dan Hati Bertolak Belakang

Evelyn turun dari kamarnya, menuju dapur. Dengan rambut yang masih berantakan dan wajah khas bangun tidur, kepalanya terasa pening. Berjalan menuju dapur Evelyn langsung mengambil air dingin yang berada dikulkas dan meneguknya.

"Ternyata daya tarik Juna sangat luar biasa," kata Elangga yang berada dimeja makan, memperhatikan adiknya.

Ukhuk.. ukhuk.. Evelyn batuk, gadis itu menoleh dan menemukan Elangga yang tengah menikmati sarapan pagi.

"El? Kau.." ucapan Evelyn tergantung, dia keburu ingat bahwa Mona kemarin sempat memberitahukan penerbangan El ke Indonesia "sedang apa kau?" lanjutnya.

"Menikmati sarapanku, konyol sekali pertanyaanmu. Dan wajah apa itu? Seperti itukah wajah yang harus kau tunjukkan pada seorang Kakak yang telah lama meninggalkan rumah? Kau tidak merindukanku?"

Evelyn bergerak melangkah, mengambil posisi duduk dihadapan El "kau tidak marah padaku?" Evelyn menatap sedih.

El terdiam, Evelyn menunggu jawaban Kakaknya dengan takut "mengapa aku harus marah padamu? Kesalahan apa yang telah kau lakukan?"

"Aku membuat Papi terbaring di rumah sakit El, itu kesalahan yang telah aku buat," air mata jatuh meluncur melewati pipi semulus bayi.

"Itu bukan kesalahanmu, ada masalah dengan jantung Papi. Dan kita semua tidak tahu Eve, Papi menyembunyikannya."

"Tapi jika aku tidak membentak dan berkata kasar padanya hari itu, Papi pasti tidak akan terbaring disana El...hiks..." tangis Evelyn semakin menjadi kala El membawanya kedalam pelukan.

"Syut.. sudah, sudah. Itu bukan salahmu Eve. Jangan salahkan dirimu."

Evelyn terus menangis dipelukan El, hingga tangisnya mereda Evelyn merenggangkan pelukan "kau akan terlambat jika terus memelukku El," ujarnya.

"Tidak masalah, bukankah aku memiliki adik ipar yang kompeten dan tepat waktu. Seorang young businessman," El mengingatkan.

Evelyn mendongak, dia kembali memeluk El "aku belum menyetujuinya," ucap Evelyn malas.

"Mengapa? ku rasa kau menyukainya."

Evelyn melepaskan pelukan dan menatap Kakak laki-lakinya itu, "bagaimana kau bisa tahu kalau aku menyukainya?"

Elangga terkekeh, "ayolah I'm your brother! Aku tumbuh bersamamu selama ini Eve. Seorang Evelyn Gauri meminum alkohol untuk pertama kalinya. Kau lupa, kau pernah mengatakan padaku bahwa kau akan meminum alkohol dengan pria yang kau sukai. Dan aku yakin, ini adalah yang pertama kalinya. Kau minum Eve, kau mabuk semalam dan  juna mengantarkanmu sampai kau terbaring."

Evelyn mengerjapkan matanya, dia langsung memeluk tubuhnya "kau baru saja mengatakan dia mengantarkanku sampai aku terbaring?"

"Yes."

"Pakaianku, siapa yang mengganti pakaianku?!" Evelyn mulai panik.

"Oh my god! Tentu saja MAMI."

Evelyn merasa lega, dia pikir Arjuna yang menggantinya "kau memang sangat mengenalku El," bisik Evelyn.

"Kau benar menyukainya?"

"Ya. Tapi aku telah menolaknya lebih dulu, aku kira dia adalah pria tua dengan rambut yang beruban. Tapi ternyata, ya Tuhan.." Evelyn memejamkan mata "kau tahu apa yang kukatakan saat dia melamarku El?"

"Dia melamarmu?"

"Ya dia melamarku, katakan saja begitu, dilorong rumah sakit.."

Flashback

"Jadilah istriku," mata elang Arjuna menatapnya tajam.

"Meski kau tampan dan hebat, aku tidak tertarik hidup bersamamu," Evelyn balas menatap.

"Beri aku alasan mengapa kau menolak? padahal aku muda dan mapan."

"Karena pernikahan hanya untuk dua orang yang saling mencintai," tatapan Evelyn menusuk.

Falshback end

Setelah menceritakan pertemuannya dengan Arjuna, El tertawa mendengarnya "kau mengatakan hal yang luar biasa Eve, kau mengatakan bahwa meski dia tampan dan hebat, kau tidak tertarik hidup bersamanya. Tapi lihatlah, ucapan dan hatimu sangat bertolak belakang. Apakah kehidupan telah mengajarkanmu seperti itu? Kau menjalani hidup sesuai dengan apa yang pilihkan, tapi hatimu? apakah hatimu juga menjalaninya?"

"Kau benar El, selama ini apakah hatiku menjalani semua kehidupan? Atau hanya ragaku yang menjalaninya. Tapi El, semua yang Papi pilihkan itu selalu berjalan baik untukku. Mungkinkah jika aku menerima Arjuna itu juga akan menjadi pilihan yang baik? Karena pernikahan hanya utuk dua orang yang saling mencintai El, aku tidak yakin Arjuna akan mencintaiku."

***

Ucapan Evelyn membuat Elangga terdiam, dia membenarkan semua perkataan gadis itu. El mengenal Arjuna selama ini, dia tahu bagaimana lelaki itu berperilaku. Juga tentang masa lalu yang dimilikinya, El juga tahu bahwa Arjuna sangat menginginkan Fayola, perusahaan yang didirikan oleh kedua ayah mereka. Tapi kemarin lelaki itu mengatakan bahwa dia sudah tidak menginginkannya lagi, apakah pertemuan dengan Adiknya yang membuat Arjuna berubah pikiran?

Karena pada kenyataannya meski dia dan Arjuna berteman, mereka adalah pesaing jika sudah menyangkut Fayola. Namun jika Arjuna hanya akan menjadi luka untuk Adiknya, dia tidak akan membiarkan Arjuna mendapatkan Evelyn. Karena hidup adiknya lebih penting dari pada sebuah perusahaan.

"Pikirkan lebih keras tentang pernikahanmu Eve. Aku tidak akan mengatakan bahwa Arjuna tidak baik untukmu, karena semua pilihan ada ditanganmu. Ikutilah hatimu, jangan sampai karena kau merasa bersalah pada Papi, kau jadi tidak bisa menolaknya."

"Kau mengenalnya El, kau bahkan tahu tentang pertunangan kami. Tapi kenapa kau tidak memberitahukan hal ini padaku?"

"Aku memang mengenal Arjuna, tapi aku tidak bisa mengenali hatinya. Dia partner sekaligus pesaing bagiku. Tentang kehidupannya, aku tidak berhak menceritakannya padamu meski kau adikku. Kurasa kau akan lebih menyukainya jika Arjuna yang mengatakannya padamu. Tentang pertunangan kalian, aku juga tidak bisa mencampuri keputusan dan pilihan Papi."

Elangga bangkit berdiri, memakai jasnya serta meraih kunci mobil "aku harus berangkat, kau pikirkan baik-baik ucapanku Eve. Dan kenalilah Arjuna, jika kau menyukainya jujurlah, jika dia menyakitimu maafkan aku, aku tidak akan membiarkanmu bertemu lagi dengannya."

***

Arjuna baru saja sampai didepan rumah Evelyn, rumah besar yang ditumbuhi banyak bunga dihalaman. Aroma mawar memasuki indra penciumannya. Dia keluar dari mobil diikuti oleh Farah, Arjuna melihat El baru saja keluar dari rumah dan mereka berpapasan.

"Sedang apa kau disini?" El mengerutkan kening.

"Tentu saja menemui calon istriku," jawab Arjuna santai.

"Apa kau bercanda? Perusahaan sedang membutuhkanmu," El terlihat kesal.

Arjuna terkekeh, dia menepuk bahu menyapukan telapak tangannya, seolah membersihkan kotoran yang menempel di kemeja El "sudah ku katakan, aku tidak menginginkannya El. Kau bebas memimpin selama mungkin, aku sudah menginginkan yang lain," ujarnya.

"Tapi tidak sekarang Juna! Kami benar-benar sedang jatuh, kau tidak melihatnya? Fayola sudah diambang kehancuran!"

"Lihatlah wajahmu, kau bertingkah seperti pemula. Kau partner terhebatku, mangapa harus cemas? Kau bisa menyelesaikannya."

"Sendirian? Sementara Fayola berkolaborasi dengan perusahaan rintisanmu, ayolah Juna ini bukan saatnya mengejar seorang gadis! Kau harus lebih profesional."

"Berhenti membuatku menjauh dari adikmu! Kau tahu, waktu kami tidak banyak."

"Mengapa? Kau akan mencuri hatinya kemudian kembali pergi menemui gadis itu?" El mulai tidak sabar, suaranya mulai menyeramkan.

"Tolong pelankan suaramu tuan Gaura. Sudah kukatakan, aku sedang tidak bermain. Aku melepaskan perusahaan, karena sejak awal itu adalah milikmu. Tidak bisakah aku mengejar yang menjadi milikku? Minggir! Kau harus segera pergi, sebelum seluruh karyawan memandangmu sebagai pemalas, karena tidak datang tepat waktu."

Akhirnya El memberikannya jalan, Arjuna tersenyum penuh kemenangan diikuti Fafah, asisten pribadi yang sudah dia anggap adik sendiri. Karena pintu rumah terbuka Arjuna langsung masuk, dia berpapasan dengan pembantu rumah tangga yang semalam membuatkannya minum, saat mengantarkan Evelyn.

Arjuna menempelkan jari telunjuknya, agar pembantu itu tidak menyapanya. Karena dia ingin menemui Evelyn yang sedang duduk dimeja makan. Arjuna langsung mengisi posisi duduk disamping Evelyn, membuat gadis itu terkejut.

"Kau! Sedang apa kau disini?" Evelyn menutup wajahnya, dan mengintip dari jari-jari tangan yang dia renggangkan.

"Menemuimu, bukankah kita punya waktu tujuh hari untuk saling jatuh cinta?"

Gadis itu menurunkan tangannya yang sempat menutupi wajah, "bukankah kau seharusnya ada diperusahaan?"

"Untuk apa aku berada disana? Jika yang aku inginkan berada disini."

Evelyn menoleh, "kau tidak bertemu El? dia baru saja keluar."

"Kami sempat bertegur sapa, bersiaplah! aku akan mengantarmu kekampus."

"Aku tidak ada kelas hari ini."

Arjuna tersenyum mendengarnya, merasa bahwa akhir-akhir ini dia sangat beruntung karena selalu mendapatkan waktu untuk bersama gadis ini.

"Bersiaplah! aku akan membawamu kesebuah tempat."

"Tidak mau!"

"Aku tidak menerima penolakan," setelah mengucapkan itu Arjuna langsung mengangkat tubuh Evelyn, dan membawanya kedalam mobil. Membuat gadis itu berteriak, sampai mencakarnya diare leher, meninggalkan luka.

"Apa-apaan ini?" Kata Evelyn kesal.

"Kau tidak bisa kululuhkan dengan perkataan, maka aku bertindak langsung. Sudah kukatakan aku tidak menerima penolakan. Kau akan ikut denganku."

"Oke Juna, oke. Aku akan ikut denganmu, tapi tidak dalam keadaan seperti ini. Lihat aku! Kau membiarkanku memakai piyama dan juga tanpa riasan?"

Arjuna memiringkan wajahnya, meneliti setiap inci wajah gadis itu. Membuat Evelyn merona "memangnya kenapa? Kau tetap cantik walau tanpa riasan."

"Oh, no! Please Juna jangan menggodaku. Berikan aku waktu untuk mandi."

Arjuna menarik nafas, "Baiklah."

Bersambung..

Bab terkait

Bab terbaru

DMCA.com Protection Status