Share

#3. Diam untuk Bertahan

Setelah berbulan-bulan menghadapi berbagai perlakuan kejam Angel, Cecilia terlatih untuk tidak bereaksi terhadap apapun yang dilontarkan Angel kepadanya. Bagi Cecilia, diam seperti batang kayu adalah cara bertahan hidup. Cecilia tahu, semakin dilawan, Angel akan semakin sadis.

Cecilia pun menggunakan cara yang sama untuk menghadapi Marcus. Cecilia akan terus diam sampai Marcus bosan dan membuangnya.

Tapi Angel dan Marcus dua individu berbeda. Diamnya Cecilia pada Marcus pun memberikan efek yang berbeda.

Yang Angel inginkan adalah seluruh harta Cecilia, sementara yang Marcus inginkan adalah Cecilia sendiri.

Diamnya Cecilia membuat Marcus merasa tertantang. Marcus ingin membuat Cecilia bicara kepadanya. Tentu bukan bicara dengan marah seperti sekarang, melainkan dengan mesra.

***

“Jual Cecilia Song padaku.”

Waktu makan malam, kedua tuan muda Wong kembali bertatap muka di ruang makan.

“Haaah?!” Mendengar permintaan kakaknya, Travis terkejut sampai berdiri dari kursinya.

“Aku serius,” sahut Marcus kalem. “Biar kubeli gadis itu.”

Travis tertawa terbahak-bahak. Entah apa yang begitu lucu. Marcus menyantap makanan dengan tenang, menunggu adiknya sampai puas tertawa.

Sifat kakak-adik itu memang sangat berbeda.

Marcus sangat tenang, namun bukan pendiam. Sebagai putra dan penerus Maggie Wong yang dijuluki ‘Ratu Mafia’, Marcus harus pandai bergaul dan bernegosiasi. Dan walaupun berasal dari keluarga mafia, Marcus berbisnis dengan bersih.

Dengan kemampuannya sendiri, Marcus membuat Wong Enterprise jadi perusahaan nomor satu di Asia dalam bidang membangun dan mengelola kasino elit. 

Sebaliknya, sejak kecil Travis berjiwa bebas, tidak mau diatur. Travis mogok bersekolah ketika berusia 16 tahun, lantas beberapa kali masuk penjara remaja karena perkelahian antar gangster dan mengedarkan narkotik. Kini Travis berkarir sebagai bos lintah darat.

“Ternyata Kakak hanya laki-laki biasa.” Travis menyeka air di sudut mata. “Tak kusangka akal sehat Kakak bisa dilumpuhkan oleh kecantikan seorang perempuan.”

Rupanya itu yang membuat Travis tergelak sampai suaranya serak.

“Kakak lupa sudah punya tunangan?” tanya Travis. “Tunangan Kakak bukan perempuan biasa! Nona Krystal Li adalah CEO Li & Associates, firma pengacara terpandang di negeri ini! Kakak sungguh akan mengkhianati Nona Krystal demi pelacur yang Kakak tiduri semalam?”

Marcus memesan segelas wine pada pelayan, lantas dia menatap Travis.

“Itu bukan urusanmu, Travis.”

Travis mendesis sebal menanggapi sikap sok keren kakaknya.

‘Dasar budak kapitalis,’ umpat Travis dalam hati. ‘Kau tak ubahnya kerbau yang dicocok hidung.’

Diam-diam Travis tak pernah menyukai Marcus.

Sejak dulu, ibu kakak-beradik itu selalu menganggap Marcus contoh baik, dan ibu mereka selalu menuntut Travis untuk jadi seperti kakaknya.

Tentu saja Travis si pemberontak tidak sudi mencontoh Marcus. Marcus membiarkan hidupnya dikendalikan oleh sang ibu, dan berjuang keras memenuhi ambisi ibunya yang narsisistik.

Sekarang pun demikian. Orang-orang mengelu-elukan Marcus sebagai ‘Tuan Muda Wong yang Sukses’, dan sebaliknya, mereka menyebut Travis ‘Tuan Muda Wong yang Bermasalah’.

Padahal, menurut Travis, yang bermasalah adalah Marcus. Travis pikir, kesuksesan Marcus hanyalah pajangan, sebab kesuksesan itu tidak memberikan Marcus kebebasan.

Awalnya Travis tidak peduli, namun lambat-laun, Travis jadi tertantang untuk membalik keadaan. Dia ingin membuat orang-orang yang menyanjung Marcus berbalik menghina Marcus.

Sebuah ide cemerlang pun melintas di benak Travis.

‘Sepertinya aku bisa menggunakan Cecilia untuk merusak reputasi Marcus ….’ Travis bertopang dagu. ‘Perselingkuhan Marcus dengan Cecilia bisa jadi berita viral yang mengundang banyak hujatan orang ….’

Travis memperbaiki posisi duduknya.

“Sayangnya, Kak, aku hanya bisa meminjamkan Cecilia padamu,” katanya. “Aku tidak akan menjualnya.”

“Kalau begitu, aku ingin Cecilia bersamaku secara eksklusif.”

Beberapa jam kemudian, perundingan Travis dan Marcus di ruang makan berujung sebuah kontrak. Travis menyewakan Cecilia sebagai teman tidur Marcus selama 30 hari.

Setelah kontrak itu selesai ditandatangani, Marcus pergi mandi.

Diam-diam Travis pun menemui Cecilia.

“Nona Song, camkan kata-kataku,” bisik Travis tergesa. “Mulai malam ini, selama sebulan, kau gundik kakakku.”

“Tapi jangan sampai kau jatuh cinta padanya.” Travis memperingatkan keras. “Dia bukan kekasihmu. Dia membayarku untuk menikmati tubuhmu.”

Travis mencengkeram kedua lengan Cecilia.

“Seluruh gerak-gerikmu pasti selalu kuawasi. Jangan coba-coba mengkhianatiku, Nona Song. Jika kau macam-macam, aku tak akan segan membunuhmu.”

Lantas Travis pergi sebelum Marcus keluar dari kamar mandi.

Marcus mengamati Cecilia. Matanya menggelap bersemangat. Ini akan jadi malam pertama mereka bersama.

Marcus sungguh berusaha menciptakan suasana yang pas. Setiap sentuhan Marcus merayu Cecilia.

Marcus mengimpit Cecilia ke dinding, kemudian mencumbunya perlahan. Marcus menyilangkan kedua lengan Cecilia di atas kepala, menahannya dengan satu tangan, sementara tangan yang lain meraba lembut bagian yang menimbulkan gairah.

Gadis itu menerimanya—diam dan dingin—seperti benda mati.

“Haaah ….”

Marcus berhenti, mendesah panjang. Dia frustrasi. Apapun yang Marcus lakukan, Cecilia tidak akan tergerak.

Marcus melepas tangan Cecilia sambil tertawa. Dia menertawakan gadis pasif di kamarnya yang begitu menarik, sekaligus menertawakan diri yang begitu sabar menghadapi gadis itu.

Tentu biasanya, jika perempuan yang dia kencani tidak mau melakukannya, Marcus akan langsung cari yang lain. Namun kali ini, melakukan itu tidak lagi penting.

Marcus sudah merasa terhibur meski hanya melihat Cecilia. Menonton emosi gadis itu sejenak muncul di wajahnya, tetapi gadis itu bergegas memendamnya kembali, sejujurnya mengesankan buat Marcus.

Normalnya, seorang gadis perawan yang dipaksa melacur tentu akan menangis histeris. Sangat pantas apabila sekarang Cecilia memohon pada Marcus supaya dilepaskan.

“Kenapa kamu selalu menahan diri?” selidik Marcus. “Padahal, kalau kamu berisik, mungkin aku tak akan terlalu penasaran.”

“S-saya akan melakukannya.” Akhirnya Cecilia bersuara setelah membisu cukup lama.

“Oh ya?” sahut Marcus tidak antusias.

“T-tapi, sebelum kita lakukan, tolong matikan lampunya.”

“Untuk apa?” Marcus bangkit dari duduknya, menghampiri Cecilia. “Toh kau tak bisa melihatku.”

Cecilia menelan ludah gugup. “Terserah Anda saja,” ujarnya lirih.

Marcus kembali merapatkan diri. Dia menatap mata Cecilia. Bola mata gadis itu bergulir ke samping seolah menghindari tatapannya.

“Omong-omong ….” Tatapan Marcus terpaku pada mata Cecilia. “Apa kau benar-benar buta?”

[Akhir Bab 3]

Bab terkait

Bab terbaru

DMCA.com Protection Status