Share

5 Pandangan Pertama

"Menik, nanti kamu pulang jam berapa? Biar aku jemput," tanya Naryo pada Menik yang baru turun dari boncengan motornya yang masih baru.

Motor warna hitam merah keluaran merek Kak Wasaki itu sudah beberapa kali mengantarkan Menik ke pusat kota. Menik menyerahkan helm yang dipakainya pada Naryo.

Menik cuek dan memilih untuk merapikan rambutnya di depan spion.

"Cantikku, Menik.. Pujaan hatiku.. aku tanya kamu mau dijemput jam berapa nanti?" Tanya Naryo lagi masih dengan senyum sumringah sambil memainkan alisnya naik turun.

"Aku juga nggak tahu, Yo. Paling jam 3an sudah pulang. Nggak apa-apa aku bisa pulang sendiri nanti," jawab Menik

"Lho, tidak bisa begitu Menik. Kamu adalah calon istriku, dan aku adalah calon suamimu. Mana mungkin aku biarkan kamu pulang sendirian, sedangkan aku ada di sini. Bagaimana jika nanti ada laki-laki lain yang menculikmu, apa ndak blaen? Melayani kamu dengan antar jemput adalah tugasku, Menik yang cantik," kata Naryo sambil melipat tangannya di depan dada, sambil manggut-manggut, takjub dengan apa yang barusan dikatakannya.

"Udah mending kamu cepet pulang sana. Kerja kek bantuin bapakmu!" Usir Menik karena sudah tidak tahan dengan kelakuan Naryo yang nyentrik.

"Lho, tidak kerja pun aku selalu ada uang Menik, kamu tidak perlu khawatir. Ini aku Naryo anak Juragan Tebu terke.. hmmph," Menik membekap mulut Naryo menghentikan ocehannya, lalu ia bergegas pergi sebelum jadi tontonan orang ramai.

"Menik! Lho.. Hei Cintakuu.. aku akan menunggumu di sini sampai nanti.. Aiiii Loooop Yuuuu," teriak Naryo pada Menik yang sudah mulai memasuki gerbang pabrik, dilambai-lambaikannya tangannya melepas kepergian wanita yang dianggapnya kekasih itu.

Beberapa pedagang yang menggelar lapaknya di sepanjang tembok pabrik menatap Naryo sambil tersenyum.

"PACAR SAYA ITU TADI PAK! CALON ISTRI!" Teriak Naryo penuh percaya diri.

"SIAPA?!" celetuk seorang Bapak penjual baju sambil melihat ke arah Naryo.

"Itu tadi pak yang saya bonceng. Itu calon istri saya," jawab Naryo sambil menarik turunkan alisnya.

"YANG NANYA!" Celetuk Bapak itu lagi. Disambut gelak tawa pedagang yang lain.

"Lha dalah.. Maksudnya piye tho bapak-bapak ini. Tadi nanya 'siapa', dijawab kok malah bilang 'yang tanya', lha yang nanya mereka kok, piye tho" gumam Naryo sambil memindahkan motornya ke bawah pohon.

Berdekatan dengan para pedagang yang membuka lapak. Dia akan menunggu Menik sampai pulang nanti. Diambilnya sisir kecil dari saku belakang celananya dan dirapikannya rambutnya yang terkena helm tadi sambil bersiul-siul. Tidak lupa di tatanya dengan rapi poni yang jadi ciri khas miliknya.

*

Di dalam pabrik. Menik menemui petugas personalia. Seorang ibu-ibu dengan tubuh subur dan memakai kacamata. Bersama Menik ada belasan wanita lain yang juga baru pertama kali ini masuk kerja.

Perkenalan singkat dan penjelasan tugas berlangsung di ruang khusus sampai mendekati jam makan siang. Kemudian mereka berpindah menuju pabrik tempat produksi untuk melihat-lihat.

Rombongan para wanita itu berkeliling pabrik dan berhenti sesekali di bagian-bagian tertentu. Petugas personalia sesekali memperkenalkan mereka pada mandor yang mengawasi setiap lajur meja.

Menik juga belajar bagaimana cara pabrik itu beroperasi. Melihat dan mengamati dengan seksama dari bagian satu ke bagian lainnya, membuat Menik takjub dengan kecepatan tangan para wanita yang bekerja di pabrik itu. Kelihatannya mudah tapi saat Menik berkesempatan mencobanya ternyata jauh lebih sulit di luar dugaannya.

"Kalian akan ditempatkan nanti oleh mandor. Belajar melinting, memotong dan mengepak. masing-masing pasti dapat bagian mencoba," jelas petugas personalia itu.

"Besok pagi kalian akan dapat bagian tugasnya. Jam 6 pagi kalian sudah harus siap di dalam pabrik. Jangan ada yang terlambat yaa, nanti sama Pak Bambang ini yaa laporan datangnya. Biasanya beliau stand by di pintu masuk. Beliau juga yang akan bagi tugas kalian," kata petugas personalia itu sambil menunjuk pada Bapak-bapak yang berdiri di sisi kirinya. Laki-laki separuh baya yang ditunjuk itu hanya mengangguk sopan.

"Coba dulu seminggu dua minggu, jika betah kalian bisa lanjut yaa. Kalau tidak segera temui saya. Kita diskusikan dengan baik. Sampai sini ada yang mau ditanyakan?"

"Tidak, Bu." Jawab mereka serentak.

"Oke. Kita kembali ke ruang tadi untuk pembagian seragam.

Rombongan itu kembali ke gedung utama tempat segala kegiatan administrasi dilaksanakan. Mata Menik berkeliaran melihat-lihat suasana yang tadi tidak sempat dia perhatikan.

Lalu matanya bersirobok dengan seorang laki-laki berseragam putih bercelana biru gelap. Bukan. Itu bukan seragam satpam. Pria itu sedang berjalan bersama dua orang staf dari dalam gedung administrasi.

Mata indah lelaki itu menghentikan langkah Menik mengikuti rombongan. Alisnya tebal membingkai mata berwarna cokelat gelap itu. Hidungnya mancung, dengan bibir merah menggoda. Bahkan bibir Menik saja tidak Semerah miliknya.

Laki-laki itu jauh lebih tinggi dari pada Naryo. Badannya tegap, dadanya bidang membuat Menik ingin menyandarkan seluruh hidupnya pada pria tampan itu.

Rambutnya gelap bergelombang disisir rapi ke belakang sebagaimana para staf pria lainnya. Ada aroma maskulin saat laki-laki yang sedang asyik berdiskusi dengan staf lainnya itu berjalan semakin mendekat ke arah rombongan Menik.

Mata Laki-laki itu untuk sejenak juga terpaku pada sosok Menik yang putih dan cantik. Rambut Menik yang lurus hanya dikuncir bagian atasnya seadanya saja. Anak-anak rambutnya banyak yang mencuat, tapi hal itu malah menambah kesan ayu.

Selama beberapa detik mereka saling bertukar pandang, namun bagi Menik, seolah dunia berhenti berputar.

Dada Menik berdebar kencang. Dia tidak pernah melihat lelaki setampan itu di desanya. Bayangan hitam di area dagunya menambah kesan maskulin pada laki-laki yang saat itu juga memandanginya.

Jika ada yang bilang tentang jatuh cinta pada pandangan pertama itu ada, Menik akan jadi saksinya. Mendadak Menik tidak bisa mendengar apa pun di sekitarnya. Debaran dadanya sudah cukup berisik memenuhi gendang telinganya. Semuanya seperti berjalan dalam gerak lambat.

Related chapters

Latest chapter

DMCA.com Protection Status