Share

Bab 2

"Aduh ... gagah banget," puji salah satu anak baru yang dimasukkan dalam posisi cook helper  tengah menangkap sosok tinggi tegap mengomeli sedang commis di hot kitchen yang tak jauh dari dapur pastry. "Marah-marah aja masih ganteng, apalagi enggak."

"Doi emang idola di sini, sayang udah punya tunangan," bisik temannya masih memandang ke arah lelaki di sana.

"Hei, hei ... kerja!" tegur Wendy menangkap basah dua anak asyik ngerumpi ketimbang menyelesaikan adonan di depan mata. "Kerjaan kita masih banyak sampai nanti, jangan gibah dulu."

"Ma-maaf, Mbak!" kata si cook helper ketakutan. "Habisnya, mata saya enggak bisa tahan kalau ada yang bening kayak oppa Korea."

"Ahjussi rasa oppa dia," sahut temannya sambil terkikik. 

"Hush, udah itu awasi adonannya," pinta Wendy, "Itu souffle-nya kamu taruh di rak roti."

"Iya, Mbak Wen."

Sous chef  atau wakil kepala dapur di sana adalah senior Wendy di sekolah kuliner Yogyakarta bernama Bimo Hartawan. Lelaki berkumis tipis itu masih saja menceramahi anak commis sampai alis tebalnya nyaris menyatu membentuk sebuah sudut runcing di kedua sudut. Entah apa yang diomeli Bimo yang pasti si juru masak telah membuat kesalahan fatal. Hal biasa dan menjadi makanan sehari-hari kru dapur baik di hot kitchen atau cold kitchen ketika ada seseorang tak becus mengerjakan tugas.

Dulu, sewaktu Wendy masih menjadi anak magang, hampir tiap saat dia juga mendapat omelan karena adonan yang dibuatnya selalu tak berhasil mengembang. Kadang pula kue yang dipanggang terlalu lama di dalam oven sehingga hidangan yang disajikan menjadi gosong. Bermodal telinga tebal dan hati sekuat baja, omelan atasan yang menjadikan Wendy selembek agar-agar. Sampai-sampai dia dijuluki si kepala batu oleh pembimbingnya waktu itu. Justru dari kesalahan-kesalahan yang diperbuat, dia mendapat pengalaman untuk menjadi lebih baik lagi. 

 Merasa diperhatikan, netra gelap Bimo beralih ke arah Wendy lalu menarik napas sebentar mengisi kembali tenaganya sebelum menyembur salah seorang kru kitchen yang tidak becus bekerja. Lelaki berambut ikal di depan Bimo ini membuat kesalahan besar yang dinilainya membuang-buang waktu berharga dan bahan. Seharusnya dalam memasak daging tak perlu sering dibolak-balik dengan harapan cepat matang dan mempersingkat waktu. Malah cara seperti ini bisa mempengaruhi tekstur daging dan tingkat kematangannya. 

Memang tidak mudah menjadi asisten eksekutif chef  yang harus menjadi pemimpin ketika penguasa dapur sedang tidak ada. Posisi tertinggi itu sedang kosong sejak dua bulan lalu akibat atasannya sedang sakit stroke yang menyebabkan tak bisa bekerja dengan baik dan memilih mengundurkan diri. Sampai saat ini, pihak hotel baik dari F&B manajer maupun direktur belum menunjuk siapa yang berhak menduduki kursi eksekutif chef. Alhasil, Bimo menjadi pengawas sekaligus pembuat laporan juga membuat kreasi resep yang diserahkan kepada F&B manajer. Tak salah juga kan kalau emosinya sering meledak akibat banyak beban yang ditanggung. 

Bimo menatap lelaki berperawakan kurus yang menunduk ketakutan itu lalu berkata, "Kamu buat lagi sana!"

"Si-siap, Mas!"

Bimo berjalan ke arah area pastry menghampiri Wendy sambil sesekali mengamati para commis dan cook helper sebagai ujung tombak dapur hotel. Kalau ada satu kesalahan kecil saja seperti terlalu asam pada saus pendamping kakap dan gurami seperti yang dilakukan Rio tadi, puding yang berasa sabun cuci atau nasi yang kurang matang. Maka hal itu bisa menurunkan kualitas restoran hotel bintang lima. Belum lagi kalau nama kru kitchen yang membuat kesalahan bakal diseret. Bimo tidak menyukai kecacatan yang ada di dapur dan berpendapat kalau semua harus sempurna, tertata, serta dapat memuaskan tamu yang jauh-jauh merogoh kocek untuk bisa menikmati hidangan.

"Ada masalah?" tanya Bimo dengan rendah namun terkesan menuntut. "Ah, iya, untuk BEO nanti waktunya bisa kan?"

"Bisa, Mas. Stoberi layers, exotic fruit pie, sama salad kan?" Wendy memastikan BEO yang sudah ditulisnya di whiteboard sebagai daftar tugas hari ini. "Ini tinggal dikit lagi kok semuanya siap." 

"Oke," kata Bimo. "Oh iya, Wen, nanti selepas shift temenin aku ya." Kali ini suaranya terdengar lirih hampir seperti bisikan. Raut wajah penuh ambisi itu seketika berubah seakan ada beban besar yang memberatkan punggung bidang itu. 

Wendy hanya mengangguk tanpa banyak tanya karena di sini mereka tidak boleh mengatakan hal apa pun selain masalah pekerjaan. Masalah yang menerpa dan belum ditanggalkan di ujung pintu bisa saja membuat makanan yang dimasak tidak enak. Dia menyipitkan mata menilik punggung Bimo yang makin menjauh kembali ke dapur utama. 

"Pasti tentang Risya," gumamnya.

###

Sisi positif jadi anak rantau di Bali seperti Wendy adalah bisa duduk di kursi pantai seraya memandang private beach yang sudah menjadi fasilitas unggulan hotel D'amore. Dia menikmati deburan ombak tengah mengecup bibir pantai bersama langit senja juga burung-burung yang beterbangan di atas untuk mencomot ikan. Jejak oranye makin menggelap sementara sang dewi malam terlihat malu-malu mengintip Pulau Dewata dari balik gumpalan awan. Wendy yang mengagumi keindahan langit sore mengabadikannya dalam bidikan kamera sambil tersenyum selagi menunggu Bimo datang.

Seraya meluruskan kaki di atas kursi pantai, ponsel Wendy berdering menampilkan nama kontak sang ibu. Senyum merekah di bibir Wendy seketika lenyap begitu saja berganti rasa resah kalau harus menerima wejangan yang membosankan tentang pernikahan. Ingin menolak panggilan itu tapi Suwarni sudah meneleponnya sejak siang dan mengirim beberapa pesan teks yang sengaja tak Wendy balas. Mau tak mau gadis berambut sebahu itu menerima panggilan Suwarni. Tak sempat berucap, Suwarni langsung mencerocos tanpa henti seperti kereta ekspres memberi ceramah kalau seharusnya menjadi perempuan itu tak perlu bersusah payah mencari uang. 

Lama-lama kesabaran Wendy bakal berbuih seperti laut di depannya karena mendapati ucapan yang sama berulang kali. Apakah ibunya juga tak bosan menyuruh hal yang tidak disukai Wendy? 

"Ibu ini hidup ikut siapa to?" tegur Wendy kesal. "Masa gitu aja langsung heboh. Orang yang menjalani hidup itu Wendy, bukan Ibu. Kalau mereka membicarakan Wendy karena belum menikah, perawan tua, perempuan enggak laku, ya udah biarin aja. Kita makan enggak minta mereka kok."

"Memang tapi mereka bener, Wen. Perempuan itu, ora usah ngoyo-ngoyo kerjo, Nduk, kabeh iki tugas'e wong lanangOpo maneh kowe iki jabatan wes dukur ya to? Apa lagi yang kamu cari?

(Tidak usah terlalu bekerja keras, Nak, semua ini tugasnya orang laki-laki. Apa lagi kamu ini jabatannya sudah tinggi, ya kan?)

"Iya, tapi kan sekarang sudah enggak jamannya perempuan mesti kawin to, Bu," elak Wendy masih berpegang teguh pada pendiriannya. Memang perempuan hanya boleh mengurus dapur dan suami sementara karier dikesampingkan? Memangnya perempuan harus melahirkan sementara alam sudah mulai lelah di mana lahan untuk tinggal saja semakin sempit, penyakit makin aneh-aneh, dan makin bebasnya dunia internet yang negatif untuk anak. Apa manusia-manusia kolot itu tidak memikirkan dampaknya?

"Hush, kawin ... kawin ... bosomu kasar banget to, mbok kiro kowe iki kucing," hardik Suwarni.

(Bahasamu kasar banget sih, kamu kira kamu ini kucing)

Wendy memutar bola mata, membuang napas setiap kali apa yang diucapkannya selalu salah di telinga Suwarni. "Rabi, Bu ... rabi."

(Nikah, Bu ... nikah)

"Kamu ini sudah waktunya di rumah, ngurus suami sama anak. Mbok yo enggak usah terlalu jual mahal, terlalu ngebet cari duit, Wen. Duit enggak dibawa mati," tandas Suwarni masih betah mengomeli anak bungsunya yang keras kepala.

"Suami sama anak juga enggak dibawa mati, Bu," balas Wendy.

"Kowe iki dikandani kok ngeyel to!" seru Suwarni jengkel.

(Kamu ini dibilangin kok bantah!)

"Bener kan, Bu?" Wendy memajukan mulutnya dan berkelakar kalau dirinya benar. Lagi pula apa yang di dunia ini juga tidak bisa dibawa ke alam kubur kecuali amal ibadah, doa, dan sedekah.

"Wes mbohPokok'e kowe kudu rabi maksimal tahun depan!" titah Suwarni lalu memutus sambungan telepon itu sebelum Wendy membalas ucapan ibunya.

(Sudahlah! Pokoknya kamu harus menikah maksimal tahun depan!)

Ini yang menyebabkan Wendy sangat enggan untuk pulang ke kampung halaman. Kalau pun kembali ke pedesaan yang ada di Yogyakarta, Wendy lebih suka keluar rumah agar tak perlu duduk diam memedulikan omongan kedua orang tuanya yang selalu dihasut tetangga maupun keluarga besar. Mereka selalu membanggakan anak-anak perempuan mereka telah dinikahi lelaki dan beranak-pinak tanpa memedulikan ekonomi dan mental setelah membina rumah tangga.

Apakah memilih menjadi 'I'm single I'm very happy' seperti lagu Oppie Andaresta salah? Pikir gadis bermata lentik itu. Dia menggeleng pelan, sepertinya wejangan Suwarni lebih melelahkan fisik daripada kegiatan yang ada di dapur pastry D'amore. Ucapan ibunya lebih panas daripada roti-roti yang menunggu matang di dalam mesin pemanggang. Wendy melirik jam di pergelangan tangan kanan, mendengus kesal karena Bimo tak kunjung menampakkan batang hidung.

Perutnya sudah meraung-raung kelaparan, cacing-cacing di lambung Wendy protes karena energinya telah dikuras setelah menelan banyak ceramah. Sepertinya menonton drama Korea dengan semangkuk ramyeon pedas yang diberi potongan jamur enoki adalah pilihan tepat dikala hati panas. 

Tak berapa lama ponselnya kembali berdering menampilkan nama Bimo. Wendy mencibir suasana hatinya sedang buruk dan sepertinya dia harus meminta lelaki itu untuk menunda pertemuan mereka. Wendy menjawab panggilan Bimo dan berkata, "Mas Bim!"

"Maaf Wen, aku enggak bisa nepatin janji. Ada sesuatu yang harus kuurus."

"Oh ya udah, kebetulan juga aku lagi enggak enak badan," kata Wendy bohong. 

"Ya udah cepet sembuh ya, aku balik."

Setelah panggilan terputus, Wendy menggeleng keheranan. "Dia yang bikin janji dia yang batalin. Dasar!"

Bab terkait

Bab terbaru

DMCA.com Protection Status