Share

BAB 6

Gie memegang kedua pipi Ryan dan menatap matanya yang sendu, Ryan spontan memeluk erat tubuh Gie.

"Jangan pernah pergi" Ucap Ryan sambil mengalirkan air mata, Gie mengusap-usap punggung tegap Ryan.

Ryan mengantar Gie ke rumah sakit tempat ibunya di rawat, sekaligus Ryan ingin meminta maaf kepada ibu Gie atas kesalahan yang ia perbuat.

Mereka masuk dalam ruang tempat ibu Gie dirawat, ibu Gie sangat kaget dengan kedatangan Ryan.

"Pergi! Pergi kamu! Pergilah!!!" Ucap ibu Gie sambil menunjuk-nunjuk ke arah Ryan dengan tatapan ketakutan.

Gie segera menghampiri ibunya dan memeluknya, Ryan sangat menyesal dengan perbuatannya ia berlutut di depan Gie dan ibunya.

"Tolong maafkan aku... maaf kan kesalahanku, aku menyesal" Ryan mengucapkannya sambil menunduk

Malam telah tiba Ryan telah menceritakan segalanya pada ibu Gie, walau tanpa respon setidaknya Ryan puas telah meminta maaf pada Gie dan ibunya.

Setelah ibunya terlelap Gie mengajak Ryan mencari makan malam sambil berjalan-jalan, dibawah sinar rembulan malam dengan cuaca sejuk mereka melangkah beriringan.

"Maaf" Ucap Ryan pelan.

Gie menengok kearah sekilas Ryan dan tersenyum.

"Apa ada yang lucu?" Tanya Ryan menghentikan langkahnya

Gie menggelengkan kepalanya sembari tersenyum

"Apa hubungan mu dengan Wito? Kenapa kamu masuk kedalam perusahaan miliknya?" Tanya Ryan kepada Gie.

Gie mengeluarkan buku kecil khas nya dan sebuah pena dari tas miliknya.

'Dia adalah seorang yang sangat penting dalam hidup ku' tulisnya.

Seketika ekspresi wajah Ryan yang terlihat bertanya-tanya berubah 160°, rahangnya menegas dan wajah putihnya memerah.

"Tapi kenapa!!!" Bentaknya

'kenapa? Itu urusanku, apa hak mu ikut campur dalam urusan ku?' tulis Gie kembali.

"Dari sekian banyaknya manusia mengapa harus wito!?" Ryan memegang kedua bahu Gie.

Seketika Gie menghempaskan tangan Ryan

'ini lah yang tidak aku sukai darimu, selalu mencampuri urusan orang lain' tulisannya lalu pergi melangkah menjauh dari Ryan.

Ryan hanya menarik nafas panjang, kali ini ia menahan emosi dan egonya mengingat Gie sudah mulai meluluh olehnya.

Ia mengejar Gie dan kembali berjalan beriringan dengannya, bagi Ryan tidak ada hal yang lebih membahagiakan lagi selain menghabiskan waktu bersama orang yang ia cintai, hal itu membuatnya berfikir kembali tentang keinginan terakhirnya.

Pagi pun tiba

tidak seperti biasanya ia mencuci motor sportnya sendiri dan terlihat sangat bahagia, ia mengenakan kaos tanpa lengan dan celana cargo panjang berwarna serba hitam.

Matahari yang mulai naik terlihat memapar kulit lengannya yang putih namun berotot itu sehingga keringat membasahi tubuhnya.

Rambutnya yang menutupi dahi dan alisnya terkena semilir angin pagi sehingga terbuka memperlihatkan dahi dan menambah aura ketampanannya.

Gie yang dari kejauhan memperhatikan Ryan, hanya diam terpaku.

"Hei nona!" Panggil Ryan yang melihat Gie berdiri diam dari kejauhan, Ryan segera menghampiri Gie.

"Apa kamu sedang menjemput ku?" Tanya Ryan sambil tersenyum menggoda.

Gie semakin salah tingkah ketika melihat otot lengan Ryan, ia segera berjalan mendahului Ryan.

"Hei tunggu!" Panggil Ryan yang tak dihiraukan oleh Gie

Mereka membuka toko kue kembali, saat di rumah sakit Ryan berjanji akan membantu Gie membuka toko kembali hingga ibunya benar-benar pulih.

Gie dan Ryan menata kue-kue tersebut dengan sangat rapih dan cantik.

Lonceng berbunyi menandakan bahwa ada pelanggan masuk kedalam tokonya.

"Wahh tampan sekali!" Ucap seorang wanita paruh baya kepada temannya.

Gie tersenyum kepada para pelanggan dan menunjukan kue kue didalam etalase kaca.

"Hei tampan berapa harga kue ini?" Tanya seorang wanita pada Ryan.

"Apa kamu tidak melihat bandrolnya!?" Ucap Ryan kasar.

Gie seketika menyikut tangan Ryan hingga Ryan menengok kearah Gie, Gie nampak memelototi Ryan agar bersikap baik dan ramah kepada pelanggan.

"Maaf, berapa banyak yang ingin di beli?" Tanyanya datar.

Matahari sudah mulai naik ke atas.

Cring, lonceng berbunyi seseorang membuka pintu toko

"Halo Gie, sudah lama tidak bertemu" Ucap seorang wanita cantik yang mengenakan pakaian kurng bahan dan menenteng tas branded bermerek.

Ryan melihat getaran dalam mata Gie namun bibirnya berusaha tersenyum.

"Ada yang bisa saya bantu?" Tanya Ryan pada wanita cantik itu.

"Oh hai" Jawabnya sambil menatapnya Ryan dari ujung kaki sampai ujung kepala.

"Siapa namamu?" Wanita itu tiba-tiba bertanya dan mengulurkan tangannya pada Ryan.

Gie melihat Ryan, ia tersenyum dan mengangguk, Ryan menjabat tangan wanita cantik tersebut.

"Namaku Ryan, karyawan toko milik nona Gie" Ucapnya datar

"Wah Gie toko mu sudah mulai berkembang, sehingga pria tampan seperti Ryan mau bekerja dengan mu" Ucap wanita itu sinis.

"Ah namaku Agnes Amore, panggil aku Agnes" tambanya sambil menyelipkan rambut di telinga.

Ryan merasa terganggu dengan tingkah wanita bernama Agnes itu, namun ia harus menahan emosinya demi Gie.

"Aku disini ingin mengundang nona Gie untuk mendatangi pesta reuni SMA kami, apa kamu mau datang Gie?" Ucapan sambil memberikan undangan kepada Gie.

Gie mengangguk pelan dan tersenyum

"Pestanya akan di gelar sangat mewah, kamu harus datang, lihat demi pesta itu aku sampai membeli jam berlian ini, lihatlah" Agnes menunjukkan jam tangan miliknya kepada Gie.

Gie mengangguk tersenyum antusias ia takjub dengan gemerlap berlian dalam jam tangan tersebut.

"Jangan memaksakan diri datanglah apa adanya" Ucapnya sinis kepada Gie.

Spontan Ryan menarik tangan wanita itu.

"Lihat pukul berapa saat ini?" Tanya Ryan

"Kenapa kamu tiba-tiba bertanya? saat ini pukul 13:43" Jawa Agnes

Ryan menarik tangan Gie yang sama-sama terpasang jam namun terlihat sudah usang.

"Lihat apakah sama?"

Wanita itu mengangguk bingung sambil menatap wajah Ryan.

"Entah seberapa mahal jam milik mu, atau seberapa usang jam milik gadis ini, jika menunjukkan waktu yang sama tidak ada bedanya, itu hanya sebuah alat yang memiliki kegunaan yang sama, setiap detiknya, setiap menitnya, bahkan setiap jamnya akan tetap sama, Jika sudah selesai silahkan meninggalkan toko kami"

Ucap Ryan pada wanita sombong itu.

"Hah, baiklah rasanya juga menjijikkan berdiri ditempat kotor ini" Ucapnya lalu meninggalkan toko kue milik Gie.

Related chapters

Latest chapter

DMCA.com Protection Status