Share

Bagian empat

Happy Reading

Author Pov

Hani menarik tangan Naya sampai ke belakang rumah, tempat santai untuk melihat hamparan laut yang luas. Tangan wanita itu sedikit keras menggengam tangan Naya, mungkin beliau masih kesal karena perkataan Aska barusan.

Menikahi Ahra? Ya Tuhan betapa gilanya itu. Mungkin otak Aska sedikit kongslet makanya berfikir begitu, bagaimana bisa astaga. Dia saja sudah menikah dengan Naya, ini Naya lo. Bukan hanya berstatus istri Aska tapi juga berstatus sebagai adik dari Ahra.

Wanita itu pasti sudah hilang akal karena meminta menikah dengan suami adiknya sendiri, mungkin otaknya hilang entang ke mana sampai meminta hal gila seperti itu.

"Naya," panggil Hani dengan menatap menantunya dengan tatapan sedih.

Naya tersenyum, tapi bukan senyum bahagia seperti yang selama ini Hani lihat. Ini malah lebih ke senyum kepedihan dan keputus asaan, seolah wanita itu sudah tidak memiliki semangat lagi.

Seolah dia lelah dengan keadaan dunia yang berat ini, demi Tuhan kalau seandainya saja bisa. Ingin sekali Hani tutup mata agar tidak bisa melihat senyum kepedihan menantunya, Naya itu gadis yang ceria, dia suka tertawa dan tersenyum. Jadi saat melihat dia yang tersenyum pedih begini benar benar membuat Hani sedih.

"Nak, ibu--"

Belum sempat Hani selesai bicara, Naya lebih dulu berlari ke pelukkan Hani. Memeluk ibu mertuanya erat, menyalurkan perasaan sedih dan sakit hati yang selama ini di tahannya.

Dia bukan lah wanita yang kuat, dia juga bukan wanita yang tahan banting, dia juga bisa menagis, terluka dan sakit hati.

Hanya saja dia selalu tersenyum dan tertawa bukan berarti Naya tidak pernah bersedih dan sakit hati. Hanya saja dia selalu berkata iya bukan berarti dia tidak bisa berkata tidak.

Naya hanya berusaha menjadi yang terbaik saja selama ini, tapi sekarang. Saat satu satunya pondasi pertahanan hidupnya yang mulai di ambil, bagaimana busa dia tetap baik baik saja akan itu semua.

Tidak bisa. Naya sakit hati, dia terluka, dan hatinya benar benar sangat sakit karena ini semua.

"Hiks hiks hiks, hati Naya sakit bu. Sakit sekali," ucap Naya dengan isakkan pilu.

Siapa pun yang mendengar dia menagis pasti juga akan itu menagis, tagisan yang selama ini Naya tahan tahan akhirnya keluar di depan ibu mertuanya. Sudah cukup selama ini dia berpura pura kuat, sudah cukup tagis yang di tahanya, semua itu benar benar sudah cukup.

Rasanya sakit, sangat sakit saat Aska memutuskan untuk menikahi Ahra. Bahkan saat lelaki itu ingin memadunya saja dia tidak meminta izin, apakah memang Naya setidak penting itu.

Lalu untuk apa Aska menikahi Naya? Untuk apa semua ini? Apakah Aska hanya bosan saja makannya menikahi Naya? Apakah karena dia depresi di tinggal Ahra makannya menikahi Naya sembarangan? Seperti itu kah selama ini.

"Sayang ibu minta maaf, maaf karena anak ibu kamu sampai begini. Maaf nak," ucap Hani ikut menagis.

Siapa yang tidak sedih kalau melihat menantunya menagis sampai begini, bahkan untuk berdiri saja dia tidak mampu. Di matanya bahkan tidak ada lagi cahaya kehidupan, seburuk apa perlakuan anak lelakinya sampai menantunya jadi seperti ini.

"Nak ib---"

"Naya tidak tau salah Naya apa bu, kenapa Mas Aska sejahat itu pada Naya. Apakah Naya sebegitu tidak ada harganya sampai dia tega melakukan ini? Apakah Naya memang semenjijikkan itu bu? Apakah memang begitu?" tanya Naya sedih.

Pertahanannya runtuh, hatinya sakit. Dan dunianya benar benar sedang tidak baik baik saja, permintaan terakhir Ahra benar benar menhancurkan hidup Naya yang cerah. Bahwa selama ini yang wanita itu pikir adalah mimpi indahnya ternyata adalah kamuflase, itu semua adalah mimpi buruk yang tidak akan pernah Naya lupakan.

Aska bukan masa depannya yang cerah, tapi lelaki itu adalah mimpi buruk untuk Naya. Kehadirannya bukan untuk mengukir kebahagiaan, tapi untuk menulis kisah hidup Naya lebih buruk lagi.

Suami yang Naya pikir adalah orang yang akan membuat hidupnya bagaikan di surga ternyata hanyalah khayalannya saja, Aska adalah jalur menujur Neraka versinya.

Mungkin Tuhan sedang dalam suasana hati yang buruk saat menciptakan Naya, karena itu lah hidupnya tidak di beri sedikit oun kebahagiaan.

Selama ini Naya hanya di beri rasa sakit lagi dan lagi, dia berkali kali di timpali berbagai rintangan dan rasa sakit. Berkali kali dia di sakiti dan berkali kali juga dia terus di uji.

Mungkin quetes yang mengatakan kalau ingin di cintai maka matilah, karena hanya di saat kematian saja orang orang mendadak mencintai.

Apakah Naya memang harus mati dulu baru di cintai? Apakah dia harus tidak bernafas dulu baru di sayangi? Apakah konsep di sayangi memang seperti itu.

"Maaf nak maaf."

Berkali kali kata maaf Hani keluarkan, dia tidak tahan dengan tangis yang Naya keluarkan. Terdengar sangat pilu dan mengkhawatirkan, kenapa harus begitu. Kenapa Naya harua terlihat sangat menyedihkan begitu, Hani benar benar tidak tahan dengan tagisannya.

"Naya tidak sanggup lagi bu, rasanya sangat sakit." Isak Naya pilu.

Yang tanpa mereka sadari kalau di balik dinding ada seorang wanita yang membekap mulunya sendiri menahan tagis. Dia juga tidak tega seperti Hani, dia juga sama terlukanya seperti Naya.

Benar dia adalah Hana, kakak sekaligus anak dari Hani. Dia tidaj tega melihat adik iparnya tersakiti seperti itu, dia sama sekali tidak tega. Kenapa adik lelakinya sangat bodoh dan tolol, kenapa dia tidak bisa menggunakan sedikit saja otaknya untuk berfikir dengan benar. Ketololan dan kebodohannya itu benar benar membuat Hana sakit hati, tega sekali dia sampai menyakitu hati adik iparnya seperti itu.

Kalau sudah begini Hana bisa apa? Apa yang bisa dia lakukan untuk membuat Naya kembalu ceria lagi. Ibunya sudah tau tentang pernikahan kedua Aska, semoga saja beliau bisa menghentikan pernikahan gila yang akan Aska lakukan.

Kalau gagal Hana tidak tau apa yang akan terjadi pada Naya, soal Ahra siapa perduli. Sudah tau dia ingin mati kenapa harus mengajak ngajak Naya, bukan kah dengan meminta menikah dengan Aska berarti dia ingin membunuh Naya secara perlahan lahan? Wahh bukan kah dia wanita yang sangat kejam.

Sejauh ini bukan kah Naya sudah banyak mengalah untuknya? Apakah semua pengorbanan Naya masih kurang untuk Ahra, apakah dia sebegitu butanya sampai tidak melihat kalau Naya sangat terluka karena kelakuan gilanya itu, ini semua tidak masuk akal sungguh.

Dia mungkin merasa ini tidak berlebihan karena itu permintaannya, tapi apakah dia tidak pernah merasa bersalah sedikit saja pada Naya.

Apakah hatinya benar benar sudah menjadi batu atas semua rasa sakit yang Naya alami selama ini, apakah Ahra benar benar tidak merasa sedikit saja rasa khawatir oada kesehatan Naya. Apakah dia buta atau pura pura buta dengan sakit yang selama ini dua torehkan oada adiknya itu.

Apakah wanita semengerikan itu bisa di panggil sebagai kakak? Tugas kakak itu adalah melindungi adiknya, tapi Hana sangsi kalau selama hidup ini Ahra pernah melukiskan senyum di bibir Naya.

Dari sifat dan prilaku Ahra yang egois begitu, dia pasti hanya akan menciptakan air mata dan kisah sedih untuk kehidupan Naya, dia-- benar benar kakak yang sangat buruk. Ahh mengerikan sekali memiliki kakak seperti itu.

Hola hola selesai guys, jangan lupa like, comen and share ya.

Salam Sayang

Mrs Tulalit

Bab terkait

Bab terbaru

DMCA.com Protection Status