Share

Bagian enam

Happy Reading

Aska Pov

Badanku sedikit mematung saat melihat Naya dan Ibuku berpelukkan erat dengan Naya yang menagis hebat. Apakah ada sesuatu yang membuat istriku sampai seperti itu? Tapi apa, adakah orang yang berbuat jahat padanya tanpa sepengetahuanku.

Aku ingin mendekat tapi tidak seberani tega itu untuk berjalan ke arah Naya yang baru pertama kali menagis hebat seperti itu. Dari bibir tipisnya dia juga terus mengatakan kalimat sakit, demi Tuhan apa yang terjadi pada istriku?

Tangis pilunya benar benar membuat badanku merinding, suara isakkan tagisnya sungguh sangat memperihatinkan. Sejauh menggenal Naya baru pertama kali ini aku mendengar dia menagis sehebat itu.

Tubuhku terlalu kaku untuk jalan mendekat, dan mentalku terlalu lemah jika sudah berhubungan dengan Naya.

"Kau sudah puas sekarang?"

Aku menoleh ke arah samping saat mendengar suara barusan. Hana, kakakku sedang menatapku dengan tatapan marah dan terluka secara bersamaan. Kesalahan apa lagi yang aku lakukan sampai Kak Hana begini.

"Ap---"

"Apakah kau sudah puas kutanya? Sudah puas membuat adik iparku begitu?" tanya Kak Hana lagi, kali ini lebih tajam dari yang awal.

"Ken---"

"Kau sebenarnya punya otak tidak ha? Ingin menikahi Ahra? Kau ingin membunuh adik iparku ya?" desis Kak Hana tidak habis pikir.

Air mata yang memang sudah membasahi pipi putihnya kembali keluar dengan deras, walau kakakku itu sudah berusaha menghapus dengan kasar tapi air mata itu seolah memang suka keluar dan menjadi aliran sungai kecil di pipi Kakakku.

Aku sedikit bingung dengan arah pembicaraan kak Hana, apa maksut membunuh adik iparnya? Naya? Untuk apa juga aku membunuh Naya, dia istriku. Tidak mungkin aku membunuh istriku sendirikan? Apakah kak Hana sudah gila?

"Apa maksutmu kak? Membunuh? Siapa yang ingin aku bunuh? Lagian soal menikahi Ahra memang sudah aku bicarakan kan dengan Kakak? Ini permintaan terakhir Ahra, karena itu lah aku menikahinya. Kal---"

"Aku tidak tau kalau adikku seegois itu." Desis Kak Hana sinis dan berbalik meninggalkanku.

Demi Tuhan apa lagi yang terjadi sekarang, bagaian mana aku egois? Aku hanya menggabulkan satu permintaan terakhir dari Ahra, satu satunya permintaan sebelum dia pergi untuk selama lamanya. Apakah itu salah? Apakah keinginaku untuk mewujutkan itu adalah kesalahan sebesar itu?

Aku bahkan di katakan sebagai orang yang egois. Demi Tuhan tidak kah mereka tau kalau aku sebenarnya juga tidak ingin melakukan ini semua, aku juga tidak ingin menikah lagi dan membuat Naya di madu. Apalagi ini dengan kakak iparku sendiri, nanti apa kata orang luar.

Tapi aku mengabaikan itu semua dan bertekat menikahi Ahra, apakah aku masih juga di katakan egois setelah pengorbanan itu? Apakah mereka tidak berfikir kalau sebenarnya aku juga sangat benci melakukan ini semua.

Astaga mereka salah besar tentang aku. Di sini yang terluka bukan hanya Naya dan yang lain, tapi aku juga. Aku juga sangat tersiksa dengan pernikahanku dengan Ahra nanti.

*****

Author Pov

"Kamu baik baik saja nak?" tanya Hani setelah keduanya sudah agak tenang.

Naya menatap ibu mertuanya dengan senyum lelah, apakah memang sesakit itu hidup di dunia ini? Sampai dia bahkan tidak bisa bicara tadi.

Tagisan pilu Naya tadi sudah menjadi bukti betapa terlukanya wanita itu karena keluarganya, sekarang sekali lagi dia kembali di uji dengan cobaan yang luar biasa kejam.

Suami. Naya di paksa iklas kalau suaminya menikah lagi dengan  kakaknya. Demi Tuhan Hani benar benar tidak habis fikir kalau dunia yang selama ini menantunya jalani sangat kejam, tapi Hani tidak akan pernah membiarkan hal buruk tidak terjadi lagi padanya.

Sudah cukup selama ini Naya menerima rasa sakit itu, anaknya ternyata memang bukan pilihan terbaik untuk Naya. Aska dengan mudah mengiyakan wanita penyakitan itu untuk menikahinya, menjijikkan Hani tidak akan pernah setuju dengan itu. Bahkan sampai kapan pun dia tidak akan pernah setuju.

"Maaf nak anak ibu sekali lagi menyakiti hatimu, ibu benar benar minta maaf. Gara gara dia-- kam---"

"Naya tidak papa bu, jangan merasa bersalah seperti itu. Ini--- egggg mungkin ini hanya kesialan Naya lagi. Ibu sendiri kan tau hidup Naya memang tidak di izinkan bahagia," ucap Naya sambil menatap sayang ke arah mertuanya.

Sejauh ini dia sudah bisa bertahan, setidaknya sampai anaknya lahir nanti Naya harus baik baik saja. Dia tidak boleh egois dengan tidak memperhatikan janin di kandungannya, tekatnya untuk pergi semakin besar. Dari pada anaknya tau kelakuan tidak bagus ayahnya akan lebih baik jika anaknya nanti tidak tau apa apa soalnya ayahnya, mungkin itu lebih baik di sini.

"Naya ib--"

"Bu Naya kuat kok, menerima tamparan sekali lagi dalam hidup ini tidak akan membuat Naya tumbang. Naya baik baik saja, percaya lah."

Wanita itu menggangam kuat kedua tangan ibu mertuanya, menyalurkan perasaan menenangkan pada Hani. Padahal jika di lihat secara keseluruhan, dia lah yang membutuhkan dukungan dan semangat itu.

Tapi balik lagi ke awal, Naya hanya lah gadis biasa biasanya saja. Dia tidak punya apa apa untuk berharap lebih, masih syukur ada yang perduli jika tidak.

"Ibu akan membatalkan pernikahan Aska dengan wanita penyakitan itu nak, ibu janji."

Naya tersenyum lebar. "Tidak perlu bu, Naya tidak papa. Jika Mas Aska ingin menikahi Kak Ahra tidak papa. Naya bisa pergi dari kehidupan Mas Aska, Naya tidak papa. Terima kasih karena sudah mau perduli bu, Naya bahagia. Setidaknya masih ada yang sayang pada Naya di dunia ini," ucap wanita itu tulus.

Tagis Hani kembali pecah, sebuta apa hati keluarganya sampai tidak melihat betapa baiknya gadis ini. Betapa dia memikirkan hati orang lain di banding dirinya sendiri, apakah seluruh anggota keluarganya sudah benar benar tuli dan buta.

*****

Naya Pov

Aku sok kuat lagi hari ini, berlagak tidak tersakiti dan mengatakan baik baik saja pada mertuaku. Lihat nak ibumu ini kuat, jadi kelak kau juga harus jadi orang yang kuat seperti ibumu.

Bukan karena ibu tidak sayang pada ayahmu dan memutuskan untuk pergi, tapi karena ibu sayang lah makannya ibu melakukan ini.

Ibu tidak mau di madu nak, rasanya sangat sakit saat melihat kedekatan dan keromantisan ayahmu dan tantemu. Tapi ibu bisa apa, ibu bukan lah siapa siapa di dunia ini. Karena itu lah ibu harus kuat dan tahan banting untuk bertahan hidup, ibu berjanji nak sebelum ibu mati nanti hidupmu tidak akan pernah ibu biarkan bernasib sama seperti ibu. Anak ibu nanti harus menjadi orang hebat.

Aku sudah menabung cukup banyak, hasil kerja tulis menulisku memang cukup bagus. Setidaknya itu sudah cukup untuk membeli rumah dan hidup kedepannya, aku sudah bertekat untuk pergi dari sini.

Membeli rumah di perdesaan kecil dan hidup bahagia bersama calon anakku. Itu terdengar sangat indah, aku akan mencari cari cara untuk keluar dari sini. Dan cara satu satunya yang bisa aku lakukan adalah---

Apakah aku terlalu jahat jika ingin memangfaatkan mertua dan kakak iparku untuk melakukan ini semua? Tapi aku bisa apa lagi kalau sudah begini. Dari pada terus tersakiti setiap harinya lebih baik aku pergi, mungkin itu memang bukan pilihan yang tepat tapi setidaknya pergi adalah pilihan paling mudah yang bisa aku ambil.

Jadi nak tunggu lah sebentar lagi oke, ibu pasti akan segera membawamu keluar dari neraka versi dunia ini oke. Percaya lah dari pada nyawa ibu, ibu jauh lebih sayang padamu. batinku menyemangati diri sendiri, sesekali tanganku juga ikut mengusap usap perut rataku.

Hola hola selesai guys, jangan lupa like, comen, and share ya.

Salam Sayang

Mrs Tulalit

Bab terkait

Bab terbaru

DMCA.com Protection Status