Share

Bab 3. Seorang CEO?

"Lama," jawab Fariz. 

"Yang benar, Pak? Bapak tahu kan itu dilarang?" tanya heran Salma. 

"Kamu bertanya apa menjawab sih, ribet banget jadi perempuan! Gini nih yang membuat aku nggak suka perempuan, bawel!" Fariz mengencangkan suaranya. 

"Astagfirullahaladzim, tobat Pak! Bapak ini laki-laki, bukan kodratnya laki-laki suka sama laki-laki, Pak! Allahu Akbar." Salma tak menyangka dengan semua pengakuan itu. 

Ia pikir, dengan beberapa kali bertanya, Fariz hanya bercanda. Tapi ternyata, jawaban tetap mengarahkan pada gay. Salma mengusap jidatnya dan terus beristighfar dalam hati. 

"Sudah capek bicaranya?" tanya Fariz. 

"Bukan capek, tapi sudah nggak tahu lagi harus ngomong apa, seorang CEO perusahaan ternama kok bisa terindikasi gay? Apa Bapak benar-benar tidak membohongi saya?" Salma masih berharap Fariz hanyalah berbohong. 

Fariz hanya melemparkan senyum samarnya. Ia tetap membiarkan Salma terngiang dalam kebohongan. Mau Salma percaya atau pun tidak, itu sama sekali tidak menjadi masalah baginya. 

Setelah Salma sampai sekolah, ternyata ia mendapat telepon dari orang tuanya. Karena baru saja ada kejadian dengan laki-laki yang menurutnya sangat aneh itu, ia pun menceritakan kejadian tersebut. Dengan menyebutkan nama perusahaannya, mamanya Salma tahu kalau orang yang dimaksud adalah putra dari sahabat akrabnya. 

'Hhhh, biarin aja mama nggak percaya, cuma angin lewat juga,' batin Salma setelah telepon. 

Mamanya Salma tidak percaya dengan kabar tersebut dan langsung menghubungi orang tua Fariz yang menjadi sahabat akrabnya. Tentu kedua orang tua Fariz sangat shock dengan kabar tersebut. Mereka mencoba mencari informasi di kantor Fariz. 

Yang benar saja, kedua orang tua Fariz mendapat kabar bahwa anaknya memang tidak pernah dekat dengan perempuan di kantornya. Mereka juga mendengar kabar Fariz terindikasi gay dari karyawannya. Orang tuanya jadi cepat menyimpulkan bahwa anaknya memang terindikasi gay. 

Dengan situasi seperti itu, orang tua Fariz mengusulkan kepada orangtua Salma untuk mau menjodohkan mereka. Kedua orang tua Salma pun menyetujuinya. Di sisi lain, orang tua Salma juga memang menginginkan Salma menikah sebelum kuliah. 

Maka pernikahan tersebut dijadikan syarat oleh orang tua Salma dalam memenuhi keinginan putrinya untuk kuliah. Mereka langsung menjenguk Salma di pesantren dan membicarakan hal tersebut.

***

Saat Salma dijenguk, ia sudah berangan-angan bahwa orang tuanya akan memberi kabar mengenai kuliah jurusan dakwah yang ia inginkan. Karena sebentar lagi, dia sudah lulus dari MA. Keinginannya untuk kuliah jurusan dakwah itu tidak pernah hilang dari dulu. 

"Mama, Papa, pasti bicarain kampus kan?" tanya Salma dengan senyum cerianya. 

"Hmm, anak Mama kan sudah besar, di pesantren udah wisuda dua tahun yang lalu, terus udah mengajar juga, kamu nikah ya setelah wisuda MA?" ucap Mama Risa, mamanya Salma. 

"Haaaaa?" Salma terbengong tak bisa berkata. 

"Iya, Mama sama Papa sudah sepakat untuk menjodohkan kamu, kalau kamu mau kuliah, kamu harus nikah setelah acara wisuda dengan seorang CEO, kalau tidak mau ya sudah, nggak usah kuliah dulu," jelas Papa Rohman, papanya Salma. 

"Apa? Seorang CEO? Sesuai kriteriaku sih, tapi saatnya belum tepat, siapa namanya?" tanya Salma mencoba tegar. 

"Ciee … hahaha … putri cantik Papa sudah ngakuin kalau suka sama CEO, nanyain namanya juga, belum tepat kan sekarang, kalau kamu sudah lulus, tepat kan?" tanya papa Rohman dengan meledek putrinya. 

"Apaan sih, Pa? Nggak begitu juga kali konsepnya, aduh …" ucap Salma dengan menghembuskan nafas kesalnya. 

"Memangnya, bagaimana konsepnya?" tanya papa Rohman. 

Related chapters

Latest chapter

DMCA.com Protection Status