Share

5. Kabar Dunia Persilatan

Mulai saat itu juga Saka berlatih untuk menguasai semua yang terdapat dalam Kitab Sapta Wujud. Terlebih dahulu dia membaca petunjuk di halaman-halaman awal.

Ternyata tiga guci tuak bisa digunakan untuk membantu mempercepat Saka dalam menguasai jurus atau ilmu.

Namun, itu semua ada tata cara minumnya. Berapa teguk, kapan waktunya, menghadap ke arah mana dan posisi berdiri atau duduk.

Saka Lasmana mengulang-ulang bacaan agar mudah diingat. Kecuali benar-benar lelah, ngantuk dan lapar, Saka baru berhenti berlatih.

Sepertinya tiga guci tuak itu memang tepat untuk orang yang sedang melatih Kitab Sapta Wujud. Begitu ketiganya habis, Saka telah sempurna menguasai isi kitab tersebut.

Setelah dihitung setiap terbit matahari, ternyata Saka berlatih selama empat purnama. Terbilang cepat. Menguasai beberapa jurus dan ilmu hanya dalam waktu empat bulan saja.

Mungkin berkat bantuan tuak sakti dalam guci maupun dalam bumbung bambu. Empat guci dikubur kembali. Lalu Saka membuat tali untuk bumbung agar bisa digantung di punggung.

Bumbung ini sangat ringan seperti membawa ranting kering saja, tapi Saka tahu di dalamnya ada tuak ajaib yang tidak bakal habis.

Sekarang dia sudah siap untuk balas dendam. Saka merasa tenaga dalamnya sudah meningkat sangat pesat. Dia sudah yakin mampu mengalahkan Boma Sagara atau gurunya sekalipun.

Karena pakaian yang dikenakan sudah semakin lusuh dan bau. Saka berniat mengganti pakaian. Berarti dia harus kembali ke rumahnya.

Sekarang dia tidak takut sama sekali kalau harus berhadapan dengan Boma Sagara. Maka pagi itu Saka berangkat ke rumahnya yang telah dirampas.

Saka mengambil jalan yang sepi. Orang-orang yang melihatnya pasti akan mengira dia orang gila, tapi dia sendiri tidak sadar selama di jalan sering tertawa sendiri.

Kadang menangis juga kala teringat pengkhianatan Rinjani.

"Tidak, tidak! Aku tidak boleh menangis. Masa laki-laki menangis? Harusnya tertawa terus apa pun yang menimpa diriku. Biarlah dianggap orang gila juga. Ha ha ha ...!"

Tidak sampai setengah hari Saka sampai di rumah yang seharusnya tetap menjadi miliknya. Namun, dari jauh rumah itu tampak sepi.

Saka tidak segera mendekat, dia memperhatikan beberapa saat. Namun, setelah cukup lama, tidak ada tanda-tanda ada orang di dalamnya.

Akhirnya Saka mendekat, tapi tetap waspada. Dia berhenti di depan pintu yang tertutup. Indra Pendengarannya dipertajam. Sepi, tidak terdengar suara napas orang.

Brakk!

Saka membuka pintu dengan keras. Setelah memeriksa seluruhnya ternyata rumah ini memang kosong. Lalu dia masuk ke kamarnya.

"Untung masih ada!"

Diambilnya beberapa pakaian yang masih layak dipakai dari dalam lemari kecil. Sepertinya Rinjani atau Boma Sagara tidak memperdulikan lemari ini.

Kemudian pakaian lusuh yang menempel di badan juga diganti dengan yang baru. Kini penampilan Saka tidak seperti pengemis atau orang gila lagi.

Saka Lasmana mengenakan baju biru gelap dan celana pangsi hitam. Pakaian ini tampak cocok di badan Saka. Baik dari ukuran atau warnanya.

Rambut Saka yang gondrong dibiarkan tergerai, tapi tetap kelihatan rapi. Walaupun wajahnya sedang-sedang saja, tapi terpancar pesona berkat rambutnya ini.

Di punggungnya dia menggendong bumbung tuak seperti seorang pendekar yang membawa pedang.

Sebenarnya Saka ingin menempati rumah ini lagi, tapi dia sedang mengusung misi balas dendam. Dia tidak boleh berdiam diri saja.

Biarlah rumah ini terbengkalai untuk sementara waktu. Suatu saat setelah dendamnya terbalas mungkin akan ditempati lagi.

“Ke mana mereka pergi, aku akan mencarinya sampai ke lubang semut sekalipun!”

Kemudian Saka meninggalkan rumahnya yang sudah kosong.

Ketika Saka mulai terjun untuk membalas dendam, dia mendapatkan kabar tak sedap. Dunia persilatan pun mengalami perubahan besar.

Saka mendengar kabar tersebut di sebuah kedai ketika dia hendak masuk, tetapi diurungkan demi mendapatkan keterangan yang lengkap.

“Sekitar empat purnama lalu, Perguruan Gagak Lumayung hancur, tiga hari yang lalu, saudaranya,Perguruan Garuda Putih juga dibantai habis!” tutur salah seorang sambil menyantap makanan.

“Dibantai Ki Jangkung Wulung?” tanya yang lain.

“Benar!” Yang menjawab lain orang lagi.

“Pasti si pengkhianat itu yang memberi tahu kelemahan Pendekar Garuda Putih dan Pendekar Gagak Putih!”

“Maksudmu Saka dan Rinjani?”

“Siapa lagi? Pengkhianat busuk itu harus bertanggung jawab!”

“Tapi sekarang mereka hilang entah ke mana. Ki Jangkung Wulung bersama murid-muridnya juga lenyap!”

“Semua pendekar golongan putih sedang mencari mereka!”

Tidak ingin ada bentrokan dengan orang-orang di dalam kedai, Saka memilih pergi dengan cepat. Dia akan mencari petunjuk guna menemukan musuh-musuhnya.

Namun, dia tidak akan takut seandainya bertemu dan berhadapan dengan siapa pun yang hendak menangkap atau bahkan membunuh dirinya.

Sedikitnya Saka sudah tahu tujuan Boma Sagara memikat Rinjani sampai mengkhianatinya. Yaitu untuk mengorek keterangan agar wanita memberi tahu kelemahan gurunya.

Tiba-tiba Saka menyeringai tipis. Dia melihat tiga orang yang sangat dia ingat di kejauhan.

"Hmm... Kebetulan!"

Saka langsung berkelebat ke arah yang dituju.

Tiga orang itu terkejut begitu melihat Saka menghadang di jalan. Mereka tidak lain adalah temannya Boma Sagara. Tentu saja Saka sangat ingat pada orang-orang yang membuatnya bernasib naas.

"Kau masih hidup rupanya!" tunjuk salah seorang yang berbadan paling pendek dari kedua temannya.

"Tidak, aku sudah mati. Yang kalian lihat adalah hantu!" tukas Saka.

"Mana ada hantu gentayangan siang bolong!"

"Ini aku buktinya!"

"Lalu mau apa. Kau pikir kami takut hantu. Ha ha ha ...! Tapi, bagus juga kau masih gentayangan. Biar orang-orang dunia persilatan tidak sia-sia mencarimu!”

"Hantu gentayangan sudah ada pasti karena penasaran ingin balas dendam. Sekarang kalian rasakan akibatnya!" seru Saka Lasmana.

Saka lebih dulu mengirimkan serangan kepada salah satunya yang paling dekat. Dia gunakan jurus Gagak Malipir.

Orang yang diserang kaget bukan main mendapat pukulan dadakan begini. Dia hanya bisa menjatuhkan badan demi menghindari serangan.

Sementara dua orang lainnya segera membalas serangan Saka. Akan tetapi Saka sudah siap sehingga bisa mengelak dengan cepat sambil mengirim serangan balasan.

“Kalian tidak akan bisa menyentuh hantu!” celetuk Saka.

Dulu mereka bisa menghajar karena Saka dalam keadaan terkunci tak bisa bergerak. Sekarang Saka dalam keadaan bebas.

Saka belum mau menggunakan jurus-jurus baru yang dia dapatkan dalam Kitab Sapta Wujud. Dia masih menggunakan jurus dari gurunya.

Meski begitu, berkat arak sakti jurus-jurus tersebut bisa diperagakan lebih sempurna.

Semua serangan tiga orang ini tidak ada satu pun yang berhasil melukai Saka Lasmana, tapi sebaliknya Saka mampu mendaratkan beberapa pukulan pada tubuh lawannya.

“Glekk!”

Dalam pertarungan melawan tiga orang, Saka masih sempat menenggak tuak dari bumbung bambu.

Ketiga murid Ki Jangkung Wulung menyadari lawannya sudah berubah. Bukan lemah seperti dulu lagi, tapi rasa jumawa yang menguasai diri mereka mengabaikan hal itu.

“Kau pikir bisa merobohkan kami, hah!” hardik salah satunya.

“Buktinya kalian tidak bisa menyentuhku, ha… ha… ha…!” balas Saka.

Tingkah Saka yang berubah terbalik membuat tiga lawannya jengkel bukan main. Tadinya mereka meremehkan atas sikap Saka yang agak gila. Ternyata orang gila memang tidak bisa dianggap main-main.

Saat itu Saka menggunakan jurus Gagak Memburu Mangsa. Gerakannya meliuk-liuk bagai burung gagak yang tengah mengejar mangsanya.

Kedua tangannya laksana sayap menderu memburu sasarannya. Meski jumlahnya lebih banyak, tapi konconya Boma Sagara ini kewalahan menghadapi jurus Saka Lasmana.

Krakk! Krakk!

***

Komen (1)
goodnovel comment avatar
Nofi Priyanto
ceritanya okeh sampai kebawa alurceritaya
LIHAT SEMUA KOMENTAR

Bab terkait

Bab terbaru

DMCA.com Protection Status