Share

Dijauhi Teman

“Tapi katanya bunuh diri itu dosa besar. Tidak akan diampuni. Dia akan disiksa di neraka dengan mengulang-ulang cara kematiannya. Tapi aku juga gak kuat, ya Allah. Aku capek. Keluargaku semua jauh. Di sini gak ada yang mendukungku, gak ada yang peduli sama aku. Aku cuma punya suamiku, tapi dia tega menyakitiku. Uhuhuhu....” Ibu menangis, ia menutupkan kedua tangan ke wajahnya.

Bukan sekali ini Ibu mengucapkan ungkapan rasa putus asa itu. Cukup sering. Untunglah masih ada setitik iman di hatinya. Semoga Tuhan mengampuninya, ia bertahan hidup hanya karena tahu bunuh diri itu merupakan suatu dosa.

Aku hanya bisa menduga tanpa mampu merasakan seberat apa beban batin yang ditanggung Ibu hingga ia berputus asa seperti itu. Ibu selalu tampil baik-baik saja di hadapan para tetangga dan saudara-saudara Ayah. Tak pernah sekali pun kudengar Ibu berkata kasar kepada orang-orang di luar, meski tak jarang mereka sengaja menyindir atau memanas-manasi Ibu. Semua kekecewaan, kemarahan dan kesedihan hanya berani Ibu tampakkan kepada orang-orang di rumahnya, terutama aku.

Di satu sisi aku sangat menyayangi Ibu. Meski sering kali ia menyiksaku dengan alasan-alasan yang tak begitu masuk akal, menurutku. Namun, aku tetap menyayangi ibu. Aku takut kehilangannya. Aku bahkan sering memperhatikan gerakan dadanya kala ia tertidur. Takut kalau-kalau dada itu naik dan tidak turun lagi. Atau ia turun tapi tidak pernah naik lagi. Takut kalau tiba-tiba napas itu berhenti. Aku bahkan sering berdoa pada Tuhan agar Dia berkenan untuk mematikanku terlebih dulu sebelum mematikan Ibu, karena aku tak bisa membayangkan bagaimana nanti aku harus menjalani kehidupan jika tidak ada Ibu.

Di sisi lain, aku juga kadang merasa tertekan tinggal bersama Ibu. Aku hanya seorang anak kecil yang baru menginjak usia tujuh tahun. Ironis memang. Semua sisi rapuh Ibu ia tunjukan di depanku, seorang anak perempuan yang bahkan akalnya belum sempurna terbentuk. Aku tumbuh dalam ketakutan di rumahku sendiri. Aku sering menonton di televisi katanya Ibu Peri akan datang untuk menolong anak-anak baik yang disiksa oleh ibu tirinya. Namun, kenapa Ibu Peri tidak datang padaku? Apa karena aku bukan anak baik? Atau, apa karena ibuku bukan ibu tiri? Entah, aku tak tahu jawabannya. Aku bahkan tak yakin apakah Ibu Peri itu benar-benar ada atau hanya khayalan orang-orang belaka.

“Nay, kalo Ibu mati, nanti kamu yang akur ya sama kakak-kakakmu. Kamu yang baik sama Kak Abel sama Kak Yumna, jangan ngerepotin mereka, jangan bertengkar sama mereka,” pesan Ibu.

Ibu terus berpesan aneh-aneh. Aku hanya mendengarkan sambil terus memijiti bahu Ibu berharap bisa meringankan rasa capek yang dikeluhkannya.

Sejak kejadian Ayah memukuliku, aku tak pernah berani memegang ponsel Ayah lagi. Aku pun akan segera beranjak pergi dari sebuah ruangan jika Ayah tiba-tiba masuk ke ruangan itu.

Aku merasa Ayah semakin asing dan semakin asing bagiku. Padahal dulu Ayah sering menghabiskan waktu bersamaku. Ia sering mengajakku main bola, tenis meja, atau sekedar main kelereng. Ayah juga mengajariku main catur. Ayah selalu juara catur di kantornya. Aku tahu bahwa kuda jalannya harus dalam bentuk huruf L. Benteng hanya bisa bergerak lurus. Seluncur hanya bisa bergerak miring sesuai warna petak yang ditempatinya. Sementara Ratu bisa bergerak bebas ke sana ke mari, berbeda dengan Raja yang hanya bisa melangkah satu petak demi satu petak, atau bertukar posisi dengan Benteng jika posisinya memungkinkan. Semua itu aku tahu dari Ayah. Ayah juga dulu sering menceritakan kisah-kisah para nabi atau para pahlawan nasional sebelum aku tidur, tapi sekarang sudah tidak lagi. Ayah sudah jauh berubah.

Pernah suatu ketika aku mendengar Ayah bertanya pada Ibu perihal aku yang mulai cenderung menjauhinya. Rupanya Ayah menyadari perubahanku. Aku tak tahu apakah perbuatanku ini salah atau benar, aku hanya sedang mencoba menyelamatkan diriku sendiri agar tidak membuat Ayah marah dan memukuliku lagi.

Aku sama sekali tidak iri melihat Ayah membonceng Galang dengan sepeda motornya. Atau mendengar fakta bahwa Ayah membelikan Galang sepeda baru. Tidak, aku tidak iri. Meski pun aku juga ingin merasakan dibonceng Ayah, atau merasakan bagaimana rasanya punya sepeda sendiri, tapi lebih jauh dari itu aku hanya ingin Ayah kembali menjadi sehangat dulu.

Pagi-pagi aku berangkat sekolah sendiri. Biasanya aku akan berangkat lebih siang atau aku akan mengambil jalan memutar yang cenderung lebih sepi. Aku takut jika harus berpapasan dengan ibu-ibu yang mengantar anaknya dan mau tak mau harus menjawab pertanyaan-pertanyaan ‘kepo’ mereka. Aku tidak seperti Ibu yang bisa mengarang cerita secepat kilat untuk menutupi apa yang terjadi di dalam keluargaku. Atau seperti Kak Abel yang bisa menjawab secara cerdas dengan mengajukan pertanyaan balik yang seketika bisa membungkam mulut mereka. Aku berbeda. Aku biasanya akan panik begitu mendapat suatu pertanyaan, lalu segera menjawabnya dengan jujur tanpa meluangkan waktu untuk berpikir terlebih dahulu. Atau jika sedang malas menjawab biasanya aku hanya menggeleng lalu tersenyum, namun cara ini biasanya akan mengundang cemoohan dari mereka. Jadi ya, cara teraman menurutku memang dengan menghindar.

“Aduh, si cantik baru datang....” Bu Mega, si biang gosip itu menyapaku sok ramah.

Aih lah... kenapa pula si Irfan itu harus punya adik setiap tahun?! Lihat, aku jadi harus bertemu lagi dengan ibunya yang baru mengantarkan si Arman, adiknya.

“Nay, sini jajan dulu sini...,” Bu Fitri yang masih satu geng dengan Bu Mega mengajakku bergabung bersama mereka. Aku segera menolak.

“Enggak, Bu. Makasih. Bentar lagi masuk,” ucapku sopan seraya menunjuk gerbang sekolah.

Aku segera berlari memasuki sekolah. Aku tahu maksud mereka, jajan gratis hanya alasan mereka agar dapat mengorek info tentang keluargaku.

Tidak ada yang gratis di dunia ini, kecuali kasih sayang Tuhan. Lagi pula Ibu sudah sering memperingatkanku agar tidak mudah menerima pemberian apa pun dari siapa pun. Banyak kasus anak-anak diculik hanya karena tergoda oleh sebungkus permen. Sering pula tersiar kabar tentang kasus anak-anak perempuan yang dicabuli oleh oknum-oknum tak bertanggung jawab, hanya karena dijanjikan selembar dua lembar uang. Na’udzubillah.

Kelas dimulai, dan bagian paling tidak menyenangkan saat belajar di sekolah adalah ketika harus ada kerja kelompok. Aku akan sedikit lega jika Bu Guru telah menentukan nama-nama dalam kelompoknya. Namun yang paling menyebalkan adalah ketika aku harus mencari sendiri kelompokku. Jelas, karena sudah jarang ada anak yang mau berteman denganku.

“Sini, ikut kelompokku aja, Nay.” Lusi dengan ramah mengajakku, namun Dinda yang duduk di sebelahnya menyikutnya. Lalu membisikkan sesuatu padanya sambil matanya mendelik.

“Eh, kelompokku sudah penuh ding, Nay. Tiara yang lagi sakit katanya mau dimasukkin ke sini. Maaf ya.” Lusi kemudian meralat ajakannya, dan meminta maaf sambil menggaruk kepalanya yang entah gatal atau tidak.

“Oh, iya gapapa. Aku bisa gabung sama kelompoknya Willy kok,” kataku.

“Kamu mau masuk kelompokku, Nay? Bayar dulu dua ribu!” Willy mengajukan syarat ketika aku meminta bergabung bersama kelompoknya. Ah, dasar tukang palak!

Aku mengeluarkan uang seribu yang tersisa dari bekal harianku. Ibuku memang hanya membekaliku uang dua ribu rupiah setiap harinya. Seribu rupiahnya sudah kusetorkan untuk uang kas kelas tadi.

“Kurang seribu ini.” Willy menerima uangku dan menghitungnya.

“Besok aja lah,” kataku.

“Gak bisa! Harus sekarang! Kita mau ngerjainnya langsung abis pulang sekolah,” ucap Willy.

“Atau gini aja, kamu gapapa bayar seribu, tapi nanti pulangnya kamu harus bawain tas aku, Elvi sama Linda. Setuju? Setuju?” Willy meminta persetujuan teman-teman satu gengnya. Mereka semua mengiyakan. Jadi, ya sudahlah daripada aku tidak dapat kelompok sama sekali.

Willy, Elvi dan Linda berasal dari satu kampung yang sama yang cukup jauh dari kampungku. Pulang sekolah aku langsung menuju rumah mereka tentu dengan membawa semua tas mereka yang lumayan cukup berat, untuk anak seusiaku. Tak apa yang penting tugasku cepat selesai. Untunglah uang yang kuberikan pada Willy tadi tidak sia-sia. Dia menggunakannya untuk memasak nasi liwet dan lauk pauknya di halaman rumahnya. Kami makan siang di halaman rumah Willy dengan dialasi daun pisang.

Tugas kelompokku selesai. Aku segera pulang ke rumah. Pukul empat sore, langit sudah mulai mendung. Satu jam lagi aku harus sudah berangkat untuk mengaji. Aku berlari demi mengejar waktu agar sempat untuk mandi terlebih dahulu. Selesai mengucap salam dan menaruh sepatu aku langsung berlari ke dapur untuk mengambil minum, namun Ibu sudah menghadangku lengkap dengan sapu lidi di tangannya.

“Dari mana aja kamu?! Jam segini baru pulang!”

Bab terkait

Bab terbaru

DMCA.com Protection Status