Share

Surat Bersandi

Pov Daniel

NAYARA HANIFA, adalah nama yang tercetak pada name-tag baju seragam putih biru gadis itu.

Iya, aku mengenal—atau lebih tepatnya: menyadari keberadaannya, sejak ia datang ke sekolah ini untuk melakukan pendaftaran ulang. Seorang lelaki mengantarnya dengan mengendarai sepeda motor sport idaman kami semua, para anak remaja.

“Cih, baru aja tamat SMP udah jadi piaraan om-om,” komentar Yudi, rekan OSIS-ku yang juga ikut menyaksikan kedatangannya.

“Hush! Jangan gitu! Bapaknya itu! Mana ada om-om nganterin sugar baby-nya daftar sekolah?! Paling ponakannya kalau iya!” jawabku kesal.

Si Yudi ini, semua dia komentarin. Anak-anak yang datang sendiri, dia bilang orang tuanya gak peduli. Ada anak yang datang dengan diantar mobil mewah, dia bilang orang tuanya terlalu memanjakan. Ada anak yang diantar dengan berjalan kaki, dia bilang orang tuanya terlalu tega membiarkan anaknya harus menaiki ratusan anak tangga. Ah, memang berkumpul dengan orang semacam dia semua jadi terasa serba salah.

Bab Terkunci
Membaca bab selanjutnya di APP

Bab terkait

Bab terbaru

DMCA.com Protection Status