Share

Yakin

“Kamu baik-baik aja?” Kaivan bertanya karena ia lihat Zhafira menjadi sangat pendiam semenjak mengantar kedua orang tuanya hingga lobby.

Zhafira menganggukan kepala sambil memaksakan senyum.

Tapi Kaivan tau jika ada yang sesuatu yang mengganjal di hati dan benak Zhafira.

Kaivan membuka pintu kamar suitenya, seperti di Surabaya—ia juga mencari hotel yang memiliki kamar suite atau Familly room yang memiliki dua kamar agar bisa selalu dekat dengan Zhafira meski pada kenyataannya Zhafira lebih suka mengurung diri di kamar.

Mereka bermaksud membawa koper sebelum meninggalkan hotel untuk kembali ke Jakarta yang akan dilakukan melalui perjalanan darat karena sang driver beserta mobil dikabarkan sudah standby di parkiran.

“Fir,” panggil Kaivan membuat langkah Zhafira yang hendak masuk ke dalam kamar terhenti.

Kaivan mendekat menyusul Zhafira dan ketika Zhafira berbalik ia mendapati Kaivan begitu dekat hingga saat mendongak, hembusan napas Kaivan langsung saja menerpa wajahnya.

“Mas, kayanya Fira enggak pantes jadi istri Mas Kai ... Mas Kai cari cewek lain aja ya, Fira takut malu-maluin keluarga Mas Kai.”

Meski bibir Zhafira bicara demikian tapi sorot matanya berkata sebaliknya terbukti dari buliran kristal yang terbendung di pelupuk mata.

Kaivan menatap Zhafira sendu, kalimat itu begitu menyakitinya.

Ia jadi teringat ucapan Imelda ketika memutuskan hubungan mereka di masa lalu.

Tapi lain halnya dengan Imelda, sekarang Kaivan mengerti kenapa Zhafira mengatakan hal itu.

Kaivan mengangkat tangan untuk mengusap lembut pipi Zhafira dengan ibu jari.

“Tapi aku maunya kamu, Fir ... aku enggak akan usaha sampai sejauh ini untuk mewujudkan pernikahan kita kalau hanya setengah hati mencintai kamu, jadi ... jangan ngomong gitu lagi ya.”

“Maaf,” kata Zhafira menyesal karena telah egois yang malah menyerah di tengah-tengah perjuangan Kaivan.

“Kenapa Mas Kai suka sama Fira?” tanyanya melirih.

Zhafira mengalihkan topik pembicaraan.

“Kamu cantik, mandiri, kalau ngomong lembut banget, sederhana, polos, kamu istri-able banget dan selebihnya tanya sama cupid kenapa nembakin panah hatinya kamu ke aku.”

Zhafira tersedak tawa mendengar ucapan Kaivan, untuk sesaat ia terhibur.

“Kalau kamu kenapa suka sama aku?” tanya Kaivan memancing, ingin mengetahui apakah Zhafira sudah benar-benar mencintainya mengingat ia yang memaksakan hubungan ini.

“Aku suka sama usaha Mas Kai yang membuktikan kalau Mas Kai serius dan ... aku juga ingin punya keluarga sendiri.”

Kini kedua tangan Kaivan membingkai wajah Zhafira.

“Kita buat keluarga sendiri ya, aku ingin punya anak banyak kaya ayah sama bunda ... kamu mau, kan?”

Zhafira mengangguk cepat, air matanya resmi luruh bukan karena sedih tapi bahagia.

Kaivan mengecup kepala Zhafira kemudian menempelkan kening mereka.

“Fir, boleh peluk kamu?” bisik Kaivan serak di depan wajah Zhafira.

“Boleh, Mas.” Zhafira menjawab cepat sama seraknya karena entah kenapa dari dalam dirinya merasakan dorongan untuk memeluk Kaivan.

Tanpa menunggu waktu berlalu, Kaivan langsung memeluk Zhafira begitu erat seakan menjelaskan jika ia tidak ingin kehilangan gadis itu untuk selamanya.

Zhafira membalas pelukan Kaivan, tangannya melingkar di pinggang pria itu dan wajahnya terbenam di dada Kaivan yang bidang.

Meski begitu, Zhafira masih ragu.

Bukan tentang perasaan Kaivan lagi tapi karena takut dirinya membuat malu keluarga Gunadhya.

***

“Lo sadar enggak, Fir ... kalau lo itu kaya Cinderela,” celetuk Bella di sela-sela makan malam mereka.

Hari ini Kaivan lembur sehingga Zhafira bisa berkumpul sepulang kerja bersama dua sahabatnya sambil makan malam.

“Cinderela mah ditinggal mati papanya trus dia tinggal sama mama tiri, kalau si Fira ‘kan mamanya ada ...,” pungkas Nova menyanggah.

“Ya anggap aja mamanya kaya mama tiri, mama apaan yang ngira si Fira hamil duluan udah gitu ngomongnya di depan calon mertua si Fira ....”

Bella jadi emosi setelah mendengar curhatan Zhafira tentang pertemuan dua keluarga weekend kemarin.

Selain itu, ia juga mengetahui betul bagaimana jahatnya mama dari Zhafira.

Bella dan Nova sudah lama menjadi tempat berkeluh kesah Zhafira.

Dua sahabatnya itu bisa menilai dari cerita Zhafira maupun dari bagaimana kedua orang tua itu memperlakukan Zhafira.

Bertahun-tahun kedua orang tua Zhafira tidak pernah mengunjungi Zhafira di Jakarta.

Harus Zhafira yang datang ke Surabaya atau Bandung menjenguk orang tuanya.

Ada satu cerita yang paling menyedihkan, Zhafira pernah mendapat pelecehan dari Jo-suami mamanya.

Memang belum terlalu jauh, hanya menyentuh dan mencium pipinya secara paksa tapi ketika Zhafira melaporkannya kepada Dewi—sang mama malah menampar dan mengusir Zhafira.

Dan itu salah satu alasan kenapa Zhafira mengambil pekerjaan pertama yang datang padanya. Menjadi pegawai Bank.

Kembali pada obrolan serius ketiga gadis yang sedang nongkrong di caffe—Zhafira hanya bisa mengembuskan napas dan menyandarkan punggung menanggapi perdebatan dua sahabatnya.

“Kayanya aku enggak pantes jadi istrinya Mas Kai ... aku takut malu-maluin keluarganya Mas Kai.”

Zhafira mengungkapkan kekhawatirannya yang sarat akan rasa tidak percaya diri.

“Kata lo tadi tanggapan kedua orang tua pak Kaivan biasa aja malah bundanya support banget ... kalau pak Kaivannya enggak usah dibahas lah ya dia ngebet banget sama lo ... kalau kata gue sih bener ucapan bundanya pak Kaivan, jangan overthinking ... lagian yang akan masuk ke dalam keluarga mereka itu elo bukan kedua orang tua elo ....” Nova sang bijaksana memberikan pendapat.

“Apalagi orang tua lo juga enggak pernah ada selama ini, ya anggap aja setelah nikah nanti seperti itu,” timpal Bella kemudian.

Meski Zhafira jarang bertemu dengan kedua orang tuanya tapi mereka tidak pernah meminta sepeser pun uang hasil kerja keras Zhafira.

Zhafira tau, itu mereka lakukan agar tidak membebaninya dengan materi.

Tapi mereka bersikap seakan tugas mereka di dunia sudah selesai setelah Zhafira bekerja dan melepaskan Zhafira sendiri.

“Tapi keluarga Mas Kai bukan hanya ada kedua orang tuanya aja ... ada kakak dan adik juga ipar-iparnya trus keluarga lain dari pihak ayah bunda beserta kakek nenek ... aku takut jadi bahan gosip keluarganya nanti.” Zhafira melirih dengan raut sendu.

“Jangan buruk sangka dulu, siapa tau mereka juga baik kaya ayah bunda pak Kaivan.”

Bella yang biasanya kompor kali ini berusaha meredam kegundahan Zhafira.

“Kalau pun ada dari pihak keluarganya yang seperti itu—kayanya pak Kaivan enggak akan biarin mereka sampai nyakitin elo deh, Fir ...,” imbuh Nova memberi semangat.

Zhafira termenung beberapa saat tapi kemudian otaknya mencetuskan ide gila.

“Bel, kamu ‘kan paling hebat kalau stalk orang, coba cari ipar-iparnya Mas Kai datang dari keluarga seperti apa?” Zhafira tampak penuh harap.

“Elo berharap ada yang senasib sama elo gitu?” tebak Bella yang jemari dan matanya mulai sibuk dengan ponsel.

“Ya seenggaknya ada yang dari kalangan biasa kaya aku.”

Zhafira menyengir, gara-gara sikap kedua orang tuanya—ia jadi insecure.

Nova hanya menggelengkan kepala samar, tapi tak ayal ia pun tidak melarang tindakan dua sahabatnya.

Tidak lama Bella berhasil menemukan beberapa fakta tentang keluarga Kaivan.

“Jadi pak Kaivan itu anak keempat ... Kakak pertama dan keduanya kembar, Kama-kakak pertamanya menikah dengan seorang anak pengusaha sukses juga dari klan Marthadidjaya dan Kaila-kakak kedua pak Kaivan menikah dengan pria dari klan Alterio ....” Bella menjeda.

“Waaaaa ...,” gumam Nova dan Zhafira secara bersamaan, sebagai customer service priority Banking tentu mereka mengenal nama belakang tersebut.

Nama-nama yang menguasai bisnis di Indonesia, mereka sama-sama Konglomerat seperti Gunadhya.

“Lalu, Arkana-kakak ketiga pak Kaivan menikah dengan seorang dokter-anak dari pengusaha juga dan Kejora adik bungsu pak Kaivan menikahi pengusaha IT terbesar di Jerman,” sambung Bella kemudian.

“Dah lah ... aku nyemplung aja ke laut,” celetuk Zhafira semakin insecure.

Bella dan Nova tergelak, bukan menertawakan nasib Zhafira tapi baru kali ini melihat Zhafira putus asa.

Pasalnya, seorang anak Presiden saja yang kebetulan pengusaha berhasil Zhafira lobi untuk menempatkan dananya di Bank tempat mereka bekerja.

Padahal saat itu perjuangannya berat karena harus melewati beberapa pengawalan dan pemeriksaan ketat.

Tapi seorang Zhafira berhasil membuat atasan mereka naik pangkat karena hal itu.

“Jangan sedih, Fir ... tapi pak Kaivan enggak bohong waktu bilang neneknya seorang pegawai Bank ... lo tau, dulu Neneknya pak Kaivan yang bernama Shareena bekerja di Bank legacy yang sekarang bergabung menjadi Bank tempat kita kerja ... dulu beliau adalah customer service di kantor cabang.” Bella memberitau kembali informasi yang didapatnya dari internet.

“Coba cari tau asal usul Neneknya pak Kaivan,” kata Zhafira lagi yang penasaran dengan asal-usul keluarga calon suaminya.

“Ibu Shareena itu asli orang Bandung, Bapaknya mantan kepala sekolah SMA Negri terbaik di Bandung dan ibunya adalah ibu rumah tangga yang pintar membuat kue ... mereka ti—“

“Udah cukup Bel, fix ... cuma aku yang mecahin rekor dalam sejarah keluarga Gunadhya menjadi satu-satunya menantu yang berasal dari keluarga broken home.”

Sekarang raut wajah Zhafira semakin muram.

“Tuh ‘kan, elo cari masalah sih pake cari tau segala,” gerutu Nova menyalahkan.

“Udahlah ... buang prasangka buruk lo, pede aja ... bukan lo juga yang naksir duluan trus ngebet pengen menikahin pak Kaivan tapi sebaliknya, pak Kaivan yang maksa lo,” sambung Nova mengingatkan awal mula terciptanya hubungan Zhafira dengan sang nasabah prioritas.

“Iya ... yaa,” ucap Zhafira, ia baru ingat.

Zhafira sempat lupa tadi karena telah jatuh hati kepada Kaivan.

Ya, Zhafira resmi memberikan hatinya kepada Kaivan dan ia berharap banyak dari pernikahannya dengan pria itu.

***

Hari ini Kaivan membawa Zhafira ke sebuah restoran mewah sepulang kerja.

Zhafira masih menggunakan seragam kerjanya berupa stelan blazer dan rambut dicepol ke belakang.

Kaivan hanya memberitau Zhafira jika mereka akan makan malam sampai Kaivan yang sedang menggandeng Zhafira melambaikan tangan ke arah dalam restoran.

Zhafira sontak menoleh ke samping kemudian mengikuti arah pandang Kaivan hingga matanya menangkap kumpulan orang-orang yang duduk pada salah satu meja.

“Mas ... itu—“ Zhafira terlalu syok hingga tidak mampu melanjutkan kalimatnya.

Di meja itu duduk seorang pria berpengaruh dalam bidang bisnis di Indonesia, Zhafira tau betul siapa beliau.

Kallandra Arion Gunadhya, kakek dari Kaivan ini sering wara-wari profile-nya di majalah Bisnis Nasional maupun Internasional tapi baru sekarang Zhafira berhadapan langsung dengan beliau.

Sorot matanya begitu dalam membuat Zhafira nyaris tenggelam, kharismanya membuat siapapun akan tunduk dan menghormati beliau.

Di samping Kallandra, duduk seorang wanita yang sisa-sisa kecantikannya masih terukir di wajahnya meski sudah berusia senja.

Siapa lagi kalau bukan istri dari Kallandra yang bernama Shareena Azmi Zaina beliau memberikan senyum hangat kepada Zhafira.

Ada dua pria muda lain dan dua wanita yang Zhafira duga adalah kakak dan ipar Kaivan.

“Kek ... Nek ... kenalin, ini Zhafira.” Kaivan berujar membuat Zhafira refleks mengulurkan tangan meraih tangan Shareena yang paling dekat lalu mengecup bagian punggungnya.

Zhafira lantas berpindah memutar meja untuk tiba di dekat Kallandra dan meraih punggung tangan beliau yang lantas ia kecup.

“Dan Zhafira, kenalin ... yang duduk di ujung sana Kama-kakak pertama aku dan Arshavina istrinya ....”

Zhafira bersalaman dengan mereka berdua sambil menyebut namanya.

“Dan ini Arkana-kakak ketiga aku sama Zara-istrinya.”

Setelah diperkenalkan Kaivan, Zhafira melakukan hal yang sama kepada Arkana dan Zara.

Akhirnya Zhafira bertemu dengan anggota keluarga Kaivan, bukan hanya dari apa yang dikatakan mesin pencari pintar di Internet saja.

Tapi dalam kondisi Zhafira tidak siap karena hanya memakai seragam kerja, untuk pertama kali dalam hubungan mereka—Zhafira ingin sekali menggigit pipi Kaivan karena kesal.

“Kakek minta maaf ya Fira, baru bisa ketemu kamu sekarang ... kemarin Kakek sibuk ngurusin perusahaan di Macau,” ujar Kallandra dengan suara beratnya setelah Zhafira duduk.

“Enggak apa-apa, Kek ... Fira yang minta maaf, dateng ke sini masih pake seragam kerja ... Mas Kai enggak bilang apa-apa, tau gitu Fira pulang dulu ganti baju.” Zhafira tampak menyesal.

“Dulu ... seragam kaya gitu kebanggaan Nenek lho,” celetuk Shareena.

“Iya, Mas Kai pernah cerita ... jaman Legacy ya Nek?”

Shareena menganggukan kepala. “Yang sekarang bergabung jadi satu dengan Bank-Bank lain membentuk Bank tempat kamu bekerja,” sambung beliau yang mendapat anggukan dari Zhafira.

“Jadi Kai mengulang masa lalu Kakek sama Nenek donk,” celetuk Arshavina si menantu paling bawel.

Kallandra tersenyum sambil menatap istrinya dan Zhafira bergantian.

“Kalian mirip,” ujar Kallandra masih dengan sisa senyum di bibir.

Kallandra jadi mengingat masa lalunya bersama sang istri di mana dulu juga dirinya adalah nasabah prioritas Shareena sebelum akhirnya jatuh cinta dan menikahinya.

“Itu kenapa Kai jatuh cinta sama Fira, ternyata selera kita sama ya Kek,” kelakar Kaivan yang menghasilkan tawa anggota keluarganya.

Dalam acara makan malam perkenalan dengan keluarga Kaivan—Zhafira diterima begitu baik.

Mereka tidak membahas keluarga Zhafira, meski banyak pertanyaan yang dilontarkan untuk mengetahui siapa Zhafira.

Sama seperti ketika bertemu dengan orang tua Kaivan—Kakek dan Nenek juga kakak-kakak Kaivan mengungkap aib-aib Kaivan.

Kaivan menjadi objek penderita malam itu tapi lagi-lagi semua yang dilakukan Kaivan di masa lalu yang katanya merupakan aibnya tidak satu pun membuat Zhafira ilfeel.

Semua masih dalam batas wajar dan normal malah ada beberapa sifat Kaivan yang diceritakan keluarganya berhasil membuat Zhafira kagum.

Zhafira menatap Kaivan sambil tersenyum, ragu yang sempat menyelinap ke dalam hatinya perlahan memudar.

Keluarga Kaivan benar-benar menerimanya dengan baik meski mereka sudah mengetahui asal-usul Zhafira.

Zhafira benar-benar mantap menikah dengan Jazziel Kaivan Gunadhya, nasabah prioritas yang baru beberapa minggu dikenalnya.

Bab terkait

Bab terbaru

DMCA.com Protection Status