Share

Bagian dua

Happy Reading

Author Pov

Naya tersenyum lelah. "Mbak sudah dengarkan kabar kalau Aska akan segera menikah dengan Kak Ahra, aku tidak mau di madu Mbak. Maka kalau Aska ingin menikah lagi ya silahkan, tapi ceraikan aku dulu. Dengan begitu dia sudah bisa menikah dengan siapa pun wanita di luar sana, tanpa ada penggangu lagi seperti aku."

Kata kata Naya malam itu benar benar menggangu Hani, harusnya dia bisa biasa saja kalau seandainya Aska tidak mencintai Naya. Tapi adik bodohnya itu sangat mencintai istrinya itu, hanya saja dia terlalu bodoh dengan juga menyayangi Ahra selaku mantan sekaligus cinta pertamanya itu. Aska ingin menikahi Ahra? Adiknya itu pasti begitu bodoh dan tolol kalau sampai melakukan itu.

Ibunya, benar selain ibunya, Hani sama sekali tidak bisa melakukan apa pun. Setidaknya ibunya sangat menyukai Naya dari pada Ahra, Hani memang tidak tau Ahra pernah membuat kesalahan apa sampai ibunya itu begitu tidak menyukai wanita itu. Dia bahkan menentang hubungan Aska dengan Ahra lagi. Jadi bisa kah Hani berharap kalau ibunya bisa menghentikam rencana gila Aska untuk menikahi Ahra, bisa kah dia memohon pada Tuhan untuk membuka hati adik bodohnya itu sekali lagi, bisakah dia berharap seperti itu.

Di sini ada istrinya yang begitu tulus mencintainya, Naya bukan wanita kuat seperti yang selama ini di ketahui orang orang. Mungkin dia sehat secara fisik, tapi batinnya? Siapa yang tau apa yang selama ini Naya rasakan, tidak ada yang tau bukan selain wanita itu sendiri. Dan Hani rasa Naya tidak sekuat itu untuk baik baik saja dengan semua ini.

Karena itu lah Hani berdoa, tolong sanggupkan ibunya untuk membuka hati Aska yang tolol itu. Dan buka lah hati kedua orang tua Naya agar sadar dengan prilaku tidak adilnya itu, Hani rasa Naya benar benar sudah tersiksa dengan semua ini.

"Mbak Hani sedang apa?"

Hani menoleh dan mendapati Ahra sedang tersenyum manis padanya, walau tidak bisa berjalan dan hanya menggandalkan kursi roda seperti itu sebenarnya Ahra itu cukup kuat. Tapi dia egois dengan menggandalkan penyakitnya itu untuk mendapatkan apa yang dia mau, berdalil permintaan terakhir dan menghancurkan rumah tangga Naya, adiknya sendiri. Hani sudah hilang respek dengan Ahra sejak saat itu, keegoisan dan obsesinya mendapatkan Aska membuat Hani muak.

"Tidak sedang apa apa," ucap Hani dingin dan meninggalkan Ahra begitu saja di ruang tamu.

Ahra melihat kepergian Hani dengan raut sedih, dia tidak tau apa kesalahannya pada keluarga Aska sehingga mereka tidak ada yang menyukainya, bahkan ibu Aska hanya menggangap Naya saja wanita terbaik di dunia ini.

Apakah karena dirinya penyakitan makannya keluarga itu tidak mau dengannya? Tapi dia ingin egois dengan menjadikan Aska suaminya sebelum ajal menjeput, Ahra ingin bahagia dengan Aska. Mungkin ini memang salah, tapi tidak bisa kah Ahra egois sekali lagi agar dia bisa bahagia?

"Kamu sedang apa?" tanya Aska dan berjongkok di depan kursi roda Ahra. Menatap wajah sedih yang terpancar di wajah wanita itu, entah hal apa yang membuatnya terlihat sedih lagi kali ini.

"Tidak papa, ayo kita ke meja makan. Aku lapar," ucap Ahra dengan senyuman manis.

Menanggapi senyum itu, Aska mengangukkan kepalanya dan mendorong kursi roda Ahra ke arah dapur. Sekarang memang waktunya makan siang, sudah seharusnya Ahra lapar.

Ternyata di sana sudah ada Naya, wanita itu sedang makan dalam diam. Mungkin karena dia belum sadar kedatangan Aska dan Ahra makannya dia makan dengan tenang tenang saja, sampai---

"Naya."

Naya menoleh dan bersitatap dengan Aska dan Ahra. Dadanya kembali sakit saat melihat kedekatan kedua mahluk beda jenis itu, tidak bisa kah mereka berhenti membuat Naya sakit hati dengan keromantisan yang tidak bisa keduanya kondisikan. Tidak kah mereka sadar kalau Naya juga punya hati dan bisa sakit hati, apakah perlu sampai melakukan hal seperti ini juga?

"Heem," gumam Naya pelan. Lalu kembali fokus dengan makanan di piringnya, mengabaikan kehadiran Ahra dan suaminya Aska.

"Kamu sedang makan? Bisakah aku bergabung?" tanya Ahra dengan senyum manis.

Naya menghela nafas lelah, sekali lagi dia di paksa pura pura. Apakah kehidupan Naya memang tidak bisa baik baik saja tanpa kepura puraan, kenapa dia harus sampai seperti ini untuk membuat Ahra bahagia? Kenapa dia harus ikut ke dalam sandiwara menjijikkan yang membuat hidup Naya hancur perlahan lahan? Rasanya sakit sekali.

"Makan lah, walau pun aku menolaknya kau tidak akan mendengarnya kan? Lalu kenapa bertanya padaku sedangkan pendapatku saja tidak penting di hidupmu," ucap Naya pelan dan beranjak dari duduknya.

Makannya masih banyak, dia baru makan beberapa suap saja barusan. Tapi kehadiran Ahra dan Aska benar benar membuat mood Naya berantakkan, dia tidak mau lagi di sini. Selera makannya sudah hilang sejak pertama kali Aska memanggilnya tadi.

"Naya apa maksutmu? Jaga bicaramu saat bicara dengan Ahra," ucap Aska tajam.

Naya berhenti dan memejamkan matanya lama, sekali lagi menghela nafas lelah. Apakah dia harus berdebat lagi dengan Aska? Sekali lagi bahkan sebelum dia menyelesaikan masalah yang di buatnya malam tadi? Tap---

"Naya kau di sini?"

Ketiga manusia itu menoleh ke sumber suara, Hana. Ibu dari Aska berdiri di depan pintu dan menatap menantunya dengan senyum tulus keibuan, senyum seorang ibu kepada anak perempuannya.

"I--ibu," panggil Naya dengan suara pelan. Bahkan sangking pelannya mungkin hanya dia saja yang bisa mendengar perkataanya barusan.

"Dasar menantu pintar, kau bahkan tidak mengunjugi ibumu ini. Apakah kau sudah lupa padaku?" tanya Hana sambil mengkerucutkan bibirnya merajuk.

Naya tersenyum, senyum yang dia rindukan. Di banding ibu kandungnya, Hana jauh lebih banyak memberikan dia kebahagiaan.

Mulai dari kasih sayang, material atau pun menggabulkan permintaan. Hanya dengan Hana lah Naya merasa menjadi manusia, di dengarkan, di penuhi jika ingin sesuatu, merasa di hargai dan di sayangi. Itu semua benar-benar membuat Naya sangat bahagia, Hana adalah ibu terbaik yang pernah ada.

Sekali lagi boleh kah Naya berbahagia sebentar, kalau ternyata orang yang ibu Aska sayangi adalah dia, bukan Naya. Menantu satu-satunya yang paling Hana sayangi adalah Naya bukan Ahra, boleh kah dia berbangga soal itu.

Naya senang Hana ada di pihaknya, walau nanti mungkin dia tidak kagi menjadi menantu dari Hana tapi Naya sudah cukup senang. Kalau setidaknya dia sudah pernah di berikan kasih sayang jauh lebih banyak dari yang dia dapatkan dari ibu kandungnya.

Bagi Naya, Hana itu bukan hanya ibu mertuanya tapi juga seorang wanita yang sangat Naya hormati dan sayangi. Karena lah dia bisa berdiri dengan kuat di sini, karena wanita itu lah hari harinya dulu tidak terdengar mengerikan. Betapa Naya sangat menghormati wanita berumur itu, rasanya sudah sangat dia tidak bertemu dengan Hana.

"Maaf Ibu, aku sibuk akhir-akhir ini. Maaf belum bisa mengunjungimu," ucapku penuh penyesalan.

Ini tidak di buat-buat, aku benar-benar menyesal karena jarang mengunjungi ibu mertuaku, tapi mau bagaimana lagi, aku sering sibuk akhir akhir ini.

"Tidak papa nak, kamu baik baik saja tapi kan?" tanya Hani sambil menatapku dengan sorot mata khawatir.

"Aku baik baik saja buk, tapi ibu jangan khawatir aku akan mampir ke rumah ibu setelah ada waktu nanti. Aku janji," ucapku penuh tekat.

Percaya lah aku sangat merasa bersalah sekarang dengan ibu mertuaku, bagaimana bisa aku luoa menggunjunginya.

"Ibu tidak marah nak, ibu hanya kesal saja kenapa kemaren Aska mengunjungi ibu tidak bersamamu. Tapi malah dengan wanita penyakitan itu," ucap Hani tidak suka.

Deg

Hola hola selesai guys, jangan lupa like, comen, and share ya.

Salam Sayang

Mrs Tulalit

Bab terkait

Bab terbaru

DMCA.com Protection Status