Share

BAB 2

“Apa aku jual saja organ tubuhmu ini?” bisik Raizel sambil membelai pipi Gabby.

Seketika Gabby meludahi wajah Raizel lalu membuntang sambil berteriak, “Ya! Bunuh saja aku! Lebih baik aku mati menyusul orang tuaku dari pada harus bekerja dengan iblis sepertimu!”

Raizel tertawa pedar. Dia mengusap pipinya yang basah akibat air liur. Kemudian menjambak rambut Gabby hingga gadis itu mendongak.

“Sayang sekali aku tak memberikanmu pilihan itu, Nona Gabriella! Jika kau ingin terbebas dari semua ini, pilihannya hanya dua. Bekerja denganku, atau lunasi hutang itu sekarang juga!” bisik Raizel dengan tegas.

Akhirnya dia melepas cengkramannya di rambut Gabby. Kemudian berjalan ke arah pintu untuk meninggalkan ruangan tersebut. Sementara Gabby hanya terisak sambil membenamkan wajahnya di kedua telapak tangan.

Baru saja Raizel berjalan beberapa langkah, tiba-tiba dia berhenti. Pria itu memutar sedikit lehernya untuk melihat Gabby dengan ujung mata.

“Kalau kau tak mau, hidupkan kembali saja orang tuamu! Suruh mereka lunasi hutangnya,” ucap Raizel dengan tegas lalu melangkah keluar, meninggalkan Gabby yang masih terisak.

Sesampainya di luar, Lascrea menghampiri Raizel yang terlihat kesal. Wanita seksi berambut hitam lurus dengan poni rata itu adalah orang kepercayaan Raizel yang sudah mengabdi padanya selama sepuluh tahun.

“Ada apa, Bos?” tanya Lascrea, sedikit membukuk. Jika menggunakan high heels, postur Lascrea menjadi lebih tinggi dibanding Raizel.

Sebelum menjawab, Raizel mengusap kasar wajahnya sambil menghela napas gusar.

“Lo urus cewek yang ada di dalam ruangan gue! Pastikan dia mandi dan tolong dandani yang cantik!

“Siapa dia, Bos?” tanya Lascrea penasaran.

Raizel langsung menoleh dengan mata terbelalak.

“Rea! Udah gue bilang berkali-kali, kalau gue kasih perintah, segera lakukan! Jangan pernah tanya kenapa!” bentak Raizel.

Lascrea pun langsung menunduk.

“Ba-baik. Maaf, Bos!” serunya dengan nada gemetar.

“Udah sana pergi!”

Lascrea pun segera memasuki ruangan Raizel dan menghampiri Gabby yang masih terisak.

Dia memandang Gabby dari atas sampai bawah dengan tatapan jijik.

“Kenapa Raizel bawa perempuan kotor ke sini? Siapa lo?” tanya Lascrea, terdengar menginterogasi.

Gabby hanya terdiam. Enggan berucap sepatah kata pun.

“Udah lah! nggak ada gunanya ngomomg sama lo. Ayo ikut gue!” seru Lascrea sambil menyeret Gabby keluar dari ruangan Raizel.

Akhirnya Gabby diperintahkan untuk mandi. Kemudian para pelayan menyiapkan pakaian seksi yang wajib dipakai oleh Gabby.

“Aku tak mau memakai ini!” seru Gabby, menatap nanar ke arah gaun mini yang bagian dadanya terlihat sangat rendah sedangkan bagian punggungnya terbuka lebar.

Lascrea membuntang lalu menjambak Gabby hingga wajahnya mendongak.

Gabby pun memekik kesakitan. Cengkraman Lascrea lebih kuat dibanding Raizel tadi.

“Argh! Lepasin!” pinta Gabby sambil berusaha melepas cengkraman Lascrea dari rambutnya.

“Pakai atau gue tarik rambut ini sampe kulit kepala lo terlepas!” ancam Lascrea dengan bengis.

“Aku nggak mau!” teriak Gabby.

Tiba-tiba Raizel datang menghentikan semuanya.

“Apa yang lo lakuin sama tamu gue, Lascrea?” tanya Raizel, menyeramkan.

Otomatis Lascrea melepas cengkramannya dan Gabby masih meringis sambil mengusap-ngusap kulit kepala yang terasa sakit.

“Maaf, Bos. Dia nggak mau nurut,” kilah Lascrea.

“Jangan sakiti tamu gue atau lo yang gue bunuh,” ancam Raizel dengan tatapan tajam.

Lascrea terperangah dengan ucapan Raizel. Bisa-bisanya dia mengancam seseorang yang sudah loyal bertahun-tahun demi wanita asing yang bahkan Lascrea sendiri tak pernah melihatnya.

“Udah, lebih baik lo pergi aja. Gue mau bawa Gabriella ke kamar gue.”

“Apa?” pekik Gabby dan Lascrea secara bersamaan.

“Untuk apa?” tanya Gabby, tergemap.

Raizel menyunggingkan senyum sambil menyilangkan kedua tangan di depan dada.

“Nanti juga kau akan tahu, Nona Gabriella.”

***

Related chapters

Latest chapter

DMCA.com Protection Status