Share

BAB 3

“Kenapa Anda membawa saya ke sini?” tanya Gabby sambil memandang sekeliling kamar Raizel yang tampak megah. Kasurnya begitu besar dengan ranjang emas yang tampak berkilau.

“Setelah didandani. wajahmu lumayan juga,” ucap Raizel sambil meraih dagu lancip Gabby.

Gabby menepis tangan Raizel sambil menatapnya tajam.

“Anda tak menjawab pertanyaan saya!”

Raizel terkekeh melihat Gabby yang tampak beringas.

“Wow! Jangan galak-galak. pelangganku bisa kabur menghadapi perempuan sepertimu,” ucap Raizel, menepuk-nepuk pipi Gabby.

“Sampai kapanpun saya nggak mau menjual tubuh saya! gertak Gabby, mengedikkan kepalanya agar tangan Raizel terlepas.

Raizel tertawa pedar. “Sudah aku bilang kamu nggak punya pilihan, Gabriella."

Raizel meraih kedua bahu Gabby lalu menuntunnya untuk mendekati tiang berukuran dua meter dengan diameter 45 mm.

“Menarilah untukku!”

Seru Raizel tiba-tiba.

“Apa ini?” tanya Gabby dengan mata terpicing. Dia mendongak, memperhatikan tiang.

“Kau tak tahu apa itu pole dance?” Raizel malah balik bertanya.

“Ta-tau. Tapi apa maksudnya kau menyuruhku menari? Aku tak bisa menari,” tampik Gabby.

Raizel mengulum senyum lalu menuntun Gabby untuk menyentuh tiang.

“Oleh sebab itu aku ingin mengajarimu,” ucap Raizel sambil memeluk Gabby dari belakang.

Gadis manis bertubuh mungil itu merasakan gelenyar ganjil saat cambang tipis Raizel bergesekan dengan telinganya.

“Bagaimana? Apa kau mulai menikmatinya?” tanya Raizel, berbisik di telinga Gabby dengan sengaja.

Gadis itu pun menggelinjang dengan mata terpejam. Tak dapat dipungkiri bahwa Gabby menikmati sensasi yang diberikan oleh Raizel.

“Se-sebenarnya Anda siapa?” tanya Gabby dengan suara yang mulai gemetar.

“Aku?” Raizel menyeringai hingga akhirnya menyentuh leher Gabby dan membalikan tubuh wanita itu agar mereka saling berhadapan.

“Aku hanya Raizel Eliezer,” ucap Raizel sambil mendekatkan wajahnya untuk menciun Gabby.

Namun belum sempat Raizel merengkuh bibir ranum Gabby, tiba-tiba dia harus merasakan sakit yang teramat hebat di bagian alat vitalnya.

“Argh! Cewek sialan!” erang Raizel sambil memegangi bagian pribadinya dari luar celana.

Rupanya Gabby berhasil menendang bagian sensitif pria itu hingga dia tersungkur kesakitan.

“Rasakan itu, Pria Iblis!” desis Gabby lalu berlari ke luar kamar Raizel.

“Arghhh!” Raizel berteriak hingga seluruh ajudannya datang menghampiri.

“Ada apa, Bos?” tanya beberapa ajudan yang terlihat bingung. Kenapa atasannya meringkuk di lantai?

“Cewek itu kabur! Cepet kejar dia, Brengsek!” teriak Raizel dengan sangat murka.

“Hah? Siap, Boss!”

Para ajudan Raizel segera berlari mengejar Gabby. Sementara gadis itu bersembunyi di belakang tiang-tiang besar yang menjulang sebagai pondasi rumah megah Raizel.

“Aku harus segera kabur dari sini,” gumam Gabby dalam hati.

Wanita itu berlari, terkadang bersembunyi di berbagai sudut rumah. Dia seperti bermain kucing-kucingan dengan beberapa ajudan Raizel. Jika Gabby tertangkap, akan tamat riwayatnya.

Keringat dingin mulai bercucuran di antara pelipis. Semakin dia mencari jalan keluar, semakin tak dapat menemukannya. Terlebih lagi Raizel mulai memberikan pesan di grup kepada seluruh anggota Black Wolf untuk menemukan Gabby.

“Jangan biarkan dia lolos dari rumah ini!” seru Raizel sambil mengetik pesan.

Lascrea yang membaca pesan dari atasannya itu hanya bisa tersenyum kecut lalu berkata, “Harusnya kau menyerahkan gadis itu kepadaku, Rai.”

Kemudian dia mengantungi ponselnya dan berlari, turut mencari Gabby yang berusaha kabur.

Gabby semakin terperangkap. Dia melihat seluruh ajudan Raizel dari berbagai arah, termasuk Lascrea.

“Aduh! Gimana ini?” batin Gabby semakin resah.

***

Related chapters

Latest chapter

DMCA.com Protection Status